Sabtu, 23 Januari 2016

Raindrop

Raindrop


            Aku berjalan pelan di trotoar setelah pulang kerja. Lelah dan penat yang kurasakan sudah mencapai maksimal. Tik! Tik! Tik! Tetesan air mangenai kepalaku. Aku menghadapkan kepalaku ke atas, langit terlihat mendung dan hujan perlahan turun. Kenapa harus hujan sekarang? Aku segera berlari menuju halte bis terdekat. Huf, dingin. Kemudian seorang gadis berkerudung panjang juga menghampiri halte ini dari arah yang berlawanan denganku. Aku menoleh padanya, tak kusangka dia malah tersenyum padaku dan mengucapkan salam, “Assalamualaikum.”
            “Wa’alaikumsalam,” balasku. Aku berpikir, senyuman gadis berkerudung ini manis sekali. Kemudian aku kepikiran dengan ibuku yang sedang sakit dan berbaring sendirian di ranjangnya. Aku harus segera pulang untuk merawatnya, tapi hujan ini malah menghalangiku. Byar! Aku menendang air genangan hujan di depanku. Menyebalkan, gerutuku.
            Tiba-tiba gadis berkerudung di sampingku mengeluarkan suaranya. “Raindrop,” ucapnya pelan. Aku menoleh lagi padanya. “Tetesan air hujan yang bening, bukankah mereka terlihat sangat indah?” ucapnya lagi. Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapannya. Dia lalu menjulurkan tangannya kedepan, seakan-akan dia sedang meraih tetesan-tetesan hujan yang sedang turun di hadapannya. “Airnya menyegarkan, sejuk dan bersih. Mereka menyapu bersih debu-debu di udara dan membuat udara menjadi segar.”
            Sekarang gadis itu menghirup udara dengan perlahan lalu membuangnya dengan perlahan juga. Dia terlihat sangat menikmati setiap tarikan napasnya. “Alhamdulillah, aku masih hidup sampai saat ini. Bisa melihat hujan yang turun dengan derasnya dihadapanku. Apa kamu merasakan hal yang sama denganku?” tanya gadis itu padaku. Aku menggeleng pelan. Dia terlihat sedikit kecewa dengan tanggapanku. “Kenapa?” tanyanya lagi.
“Aku jadi tidak bisa pulang ke rumah gara-gara hujan,” jawabku pelan. Gadis itu terdiam dan kembali menghadap ke depan.
“Kamu ada benarnya juga. Tapi sebanarnya, hujan ini adalah berkah dan rahmat dari Allah SWT. untuk kita. Jadi, kita wajib untuk mensyukurinya.” Aku menoleh pada gadis itu. Sebenarnya dia tidak sukakan dengan jawabanku tadi. Kenapa tidak bilang terus terang saja sih.
“Allah SWT. berfirman dalam al-Qur’an surat Qaaf ayat 9 yang berarti, ‘Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.’ Allah sendirilah yang memberitahukan bahwa hujan itu penuh keberkahan. Tinggal kitalah yang ingin menanggapinya seperti apa. Mau terus-terusan mengeluh atau mensyukuri berkah yang telah turun dihadapan kita saat ini,” ucap gadis itu lagi dengan tetap mengembangkan senyum manisnya.
Aku menundukkan kepalaku, sekarang aku tidak bisa mengelaknya lagi. Dia memberitahuku sesuatu yang memang benar adanya. Firman Allah SWT. itu adalah sesuatu yang mutlak. Dulu Ibu juga selalu memberitahuku firman-firman Allah SWT. yang menguak tentang kebesaran-Nya menciptakan seluruh alam semesta dan seisinya dengan semua hikmah yang terkandung di dalamnya. Namun, semenjak Ibuku sakit tiga tahun yang lalu, aku tidak lagi mendengar nasihat-nasihatnya yang terasa sejuk di hati.
Sekarang, gadis ini muncul dihadapanku mengingatkanku dengan sosok Ibuku yang hangat dan lembut. “Apa ada sesuatu hal yang membuatmu ingin secepatnya pulang?” tanya gadis itu lembut. Aku menatapnya. “Kalau kamu tidak mau memberitahuku, tak apa, aku tidak memaksa,” serunya cepat.
“Ah, tidak, Ibuku sedang sakit. Penyakitnya makin parah sejak tiga tahun yang lalu. Saat ini yang bisa kulakukan adalah merawatnya sembari mengumpulkan uang untuk biaya pengobatannya. Aku bekerja di sebuah minimarket yang ada di sebrang jalan sana. Untungnya pemilik minimarket itu mau mempekerjakan aku sebagai kasir di sana. Aku sangat bersyukur atas semua itu,” jelasku dengan kepala tertunduk menatap riak air di hadapan kakiku. Kemudian aku menoleh ke arah gadis berkerudung itu. Wajahnya memperlihatkan ekspresi simpati atas cerita yang barusan di dengarnya walaupun hanya terlihat dari samping.
Gadis itu kembali menanyakan sesuatu dengan suara lembutnya yang terasa tegas, “Jadi, hujan ini menghalangimu merawat ibumu?”
Aku terkejut dan segera membantah, “Tidak, tidak menghalangi. Hanya saja lebih tepatnya menahanku untuk segera pulang ke rumah.”
“Kamu benar, maafkan aku yang telah menanyakan hal yang tidak sopan tadi kepadamu,” mohon gadis itu. Aku hanya memalingkan pandanganku darinya. Gadis itu mengatakan hal yang sedikit membuatku tenang, “Allah SWT. mencintai hamba yang berdoa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, ‘Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.’ Al-Qur’an surat Al-A’raaf ayat 56. Nah, berdoalah kepada Allah untuk kesembuhan Ibumu di kala hujan turun membawa berkah yang berlimpah dari Allah SWT.”
Mataku berbinar mendengarnya dan aku menoleh pada gadis itu. Dia meneruskan ucapan hangatnya, “Rasulullah saw. bersabda yang berarti, ‘Doa tidak tertolak pada dua waktu, yaitu adzan berkumandang dan ketika hujan turun.’ Hadits riwayat Al Hakim, dishahihkan Al Albani, dishahihkan Al Jami’. Jadi, mari kita berdoa bersama.” Dia mengajakku berdoa bersama.
Aku dengan ragu bertanya pada gadis berkerudung tertutup sampai pinggangnya itu, “Kamu mau mendoakan Ibuku juga? Kamu bahkan belum terlalu mengenalku, tidak, bahkan kamu belum tahu namaku dan begitu juga aku belum tahu namamu.” Gadis itu tersenyum lembut dan mengangguk tanpa keraguan sedikit pun. “Baiklah, aku akan berdoa dalam hati.”
Aku menundukkan kepalaku, menengadahkan kedua tanganku ke atas tepatnya di depan wajahku, dan menutup mataku. Kupusatkan pikiranku membayangkan wajah Ibuku dan memulai doaku kepada Allah SWT. yang kuucapkan dalam hati sanubariku yang terdalam, “Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hambaMu di sini memohon kepadaMu untuk menganggkat segala penyakit yang ada ditubuh Ibuku. Ya Allah, sembuhkan penyakit TBC yang diderita Ibuku, berikanlah Ibuku kesehatan jasmani dan rohani agar beliau dapat memberikanku nasihat kembali seperti saat dia sehat dulu. Ya Allah, hamba mohon kabulkan doa hambaMu ini yang berdoa di kala hujan membasahi bumi dan berkah serta rahmat dariMu berjatuhan di bumi ini, aamiin.”
Selesai berdoa, kubuka mataku, kuturunkan tanganku, dan terasa, tetesan hangat menjalar di pipiku. Apa aku menangis tadi? Aku bertanya pada diriku sendiri. Segera kuusap air mataku dan kembali menatap ke depan. Hujan masih turun dengan derasnya. Tetesan air dari langit masih berjatuhan menerpa bumi. Aku menoleh ke sampingku tempat gadis berkerudung itu berdiri. Dia nampaknya baru selesai berdoa. Dia juga menoleh ke arahku.
“Sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku harap kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti,” ucapnya lembut. Apakah ini salam perpisahan darinya? Tapi paling tidak, seharusnya dia memberitahukan namanya padaku.
Aku ingin menanyakan nama gadis berkerudung itu, namun sebuah mobil mewah datang dan berhenti tepat di depan halte tempatku berteduh saat ini dan menyebabkan aku tidak dapat berkata apa-apa. Seseorang laki-laki berpakaian rapi dan resmi turun dari mobil dengan membawa payung. Dia bergegas ke bagian mobil yang berdekatan dengan pinggiran halte dan membukakan pintu depan mobilnya untuk gadis itu. “Terima kasih ayah,” ucap si gadis berkerudung pada laki-laki yang dipanggilnya ayah.
“Maafkan ayah, Sayang. Ayah telat menjemputmu,” ucap ayah si gadis berkerudung. Gadis itu dari dalam mobil hanya tersenyum manis mendengar permohonan maaf dari ayahnya. Aku hanya terdiam melihat kejadian dihadapanku ini. Ayah gadis itu melihat ke arahku. Aku sempat terkejut karena dilihati oleh ayah si gadis berkerudung dengan tiba-tiba. Namun, ayah gadis itu malah tersenyum padaku dan membuatku makin terkejut lagi. Ayah si gadis juga mengucapkan hal ini padaku, “Terima kasih sudah menemani anak saya di halte ini. Saya yakin kamu tidak mengganggu anak saya. Kalau begitu, kami permisi.” Aku segera membalasnya dengan senyuman.
Aku berkata kepada ayah si gadis, “Seharusnya saya yang berterima kasih kepada anak Anda karena telah mengingatkan saya akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. yang telah saya lalaikan dalam mengingatnya. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT. karena dapat bertemu dengan anak Anda hari ini. Untuk semua itu, saya ucapkan terima kasih.” Aku akhirnya dapat dengan sungguh-sungguh mengucapkan terima kasihku kepada gadis itu dihadapan ayahnya. Aku senang dengan keberanian yang aku punya saat ini.
“Oh, benarkah itu, Sayang?” ayahnya balik bertanya pada si gadis berkerudung. Gadis hanya tersenyum menanggapi pertanyaan ayahnya. “Baiklah kalau begitu. Ini kartu nama saya,” ayah si gadis menyodorkan sebuah kartu nama yang berisi data dirinya kepadaku. Aku kembali terkejut dan hanya bisa mengambil pemberiannya ini. “Jika kamu mau berta’aruf dengan anak saya di kemudian hari, hubungi saya. Dikartu nama itu ada nomor telpon saya dan nomor telpon kantor saya. Jadi, siapa namamu?”
Aku yang masih sangat, sangat, sangat terkejut dengan perkataan tiba-tiba dari ayah si gadis menjadi salah tingkah saat memberitahukan namaku, “Nama saya, Abdul Rahim.”
“Abdul Rahim, nama yang jarang dimiliki anak muda zaman sekarang. Kalau begitu, jika kamu memang mau ta’aruf sebelum menikahi anak saya, jangan sungkan hubungi saya dan bawa orang tuamu menemui saya dan keluarga di rumah saya. Baiklah, kami permisi dulu. Assalamualaikum,” salam ayah si gadis yang bergegas masuk ke dalam mobilnya.
“Wa’alaikumsalam,” balasku tepat sebelum ayah si gadis memasuki mobilnya. Aku masih sempat melihat wajah si gadis sebelum pintu tempatnya duduk tertutup. Dia terlihat malu mendengar perkataan ayahnya yang tiba-tiba padaku barusan. Aku juga masih sangat terkejut mendengarnya.
Mobil mewah itu kembali menyala dan berjalan menjauhi halte ini. Aku harap doaku bersama dengan gadis berkerudung syar’i itu dapat dikabulkan oleh Allah. Semoga ibuku bisa cepat sembuh, sehingga aku bisa mangajak bapak dan ibu pergi ke rumah gadis itu dan berta’aruf dengannya ketika aku telah siap untuk menikahinya nanti.
Aku menengadahkan kepalaku menghadap langit yang mulai berubah warna dari abu-abu menjadi biru cerah. Hujan yang menetes deras mulai menetes perlahan dan menyisakan rintikan hujan yang kecil. Aku meraih air hujan yang masih turun dengan telapak tanganku berada di atas.

Bergumam sendiri, aku mengatakan persis seperti yang dikatakan gadis berkerudung itu saat bertemu denganku di halte ini, “Raindrop, tetesan air hujan yang bening. Bukankah mereka terlihat sangat indah?” Aku tersenyum dan menjawab pertanyaan gadis berkerudung itu yang belum sempat aku jawab sembari melihat ke langit yang telah menjadi cerah seutuhnya, “Ya, raindrop terlihat sangat indah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar