Raindrop
Aku
berjalan pelan di trotoar setelah pulang kerja. Lelah dan penat yang kurasakan
sudah mencapai maksimal. Tik! Tik! Tik! Tetesan air mangenai kepalaku. Aku menghadapkan
kepalaku ke atas, langit terlihat mendung dan hujan perlahan turun. Kenapa
harus hujan sekarang? Aku segera berlari menuju halte bis terdekat. Huf,
dingin. Kemudian seorang gadis berkerudung panjang juga menghampiri halte ini
dari arah yang berlawanan denganku. Aku menoleh padanya, tak kusangka dia malah
tersenyum padaku dan mengucapkan salam, “Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam,”
balasku. Aku berpikir, senyuman gadis berkerudung ini manis sekali. Kemudian aku
kepikiran dengan ibuku yang sedang sakit dan berbaring sendirian di ranjangnya.
Aku harus segera pulang untuk merawatnya, tapi hujan ini malah menghalangiku.
Byar! Aku menendang air genangan hujan di depanku. Menyebalkan, gerutuku.
Tiba-tiba
gadis berkerudung di sampingku mengeluarkan suaranya. “Raindrop,” ucapnya
pelan. Aku menoleh lagi padanya. “Tetesan air hujan yang bening, bukankah
mereka terlihat sangat indah?” ucapnya lagi. Aku mengernyitkan dahi mendengar
ucapannya. Dia lalu menjulurkan tangannya kedepan, seakan-akan dia sedang
meraih tetesan-tetesan hujan yang sedang turun di hadapannya. “Airnya
menyegarkan, sejuk dan bersih. Mereka menyapu bersih debu-debu di udara dan
membuat udara menjadi segar.”
Sekarang
gadis itu menghirup udara dengan perlahan lalu membuangnya dengan perlahan
juga. Dia terlihat sangat menikmati setiap tarikan napasnya. “Alhamdulillah,
aku masih hidup sampai saat ini. Bisa melihat hujan yang turun dengan derasnya
dihadapanku. Apa kamu merasakan hal yang sama denganku?” tanya gadis itu
padaku. Aku menggeleng pelan. Dia terlihat sedikit kecewa dengan tanggapanku.
“Kenapa?” tanyanya lagi.
“Aku jadi tidak bisa pulang ke rumah gara-gara
hujan,” jawabku pelan. Gadis itu terdiam dan kembali menghadap ke depan.
“Kamu ada benarnya juga. Tapi sebanarnya,
hujan ini adalah berkah dan rahmat dari Allah SWT. untuk kita. Jadi, kita wajib
untuk mensyukurinya.” Aku menoleh pada gadis itu. Sebenarnya dia tidak sukakan
dengan jawabanku tadi. Kenapa tidak bilang terus terang saja sih.
“Allah SWT. berfirman dalam al-Qur’an surat
Qaaf ayat 9 yang berarti, ‘Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh
keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman
yang diketam.’ Allah sendirilah yang memberitahukan bahwa hujan itu penuh
keberkahan. Tinggal kitalah yang ingin menanggapinya seperti apa. Mau
terus-terusan mengeluh atau mensyukuri berkah yang telah turun dihadapan kita
saat ini,” ucap gadis itu lagi dengan tetap mengembangkan senyum manisnya.
Aku menundukkan kepalaku, sekarang aku tidak
bisa mengelaknya lagi. Dia memberitahuku sesuatu yang memang benar adanya.
Firman Allah SWT. itu adalah sesuatu yang mutlak. Dulu Ibu juga selalu
memberitahuku firman-firman Allah SWT. yang menguak tentang kebesaran-Nya
menciptakan seluruh alam semesta dan seisinya dengan semua hikmah yang
terkandung di dalamnya. Namun, semenjak Ibuku sakit tiga tahun yang lalu, aku
tidak lagi mendengar nasihat-nasihatnya yang terasa sejuk di hati.
Sekarang, gadis ini muncul dihadapanku
mengingatkanku dengan sosok Ibuku yang hangat dan lembut. “Apa ada sesuatu hal
yang membuatmu ingin secepatnya pulang?” tanya gadis itu lembut. Aku
menatapnya. “Kalau kamu tidak mau memberitahuku, tak apa, aku tidak memaksa,”
serunya cepat.
“Ah, tidak, Ibuku sedang sakit. Penyakitnya
makin parah sejak tiga tahun yang lalu. Saat ini yang bisa kulakukan adalah
merawatnya sembari mengumpulkan uang untuk biaya pengobatannya. Aku bekerja di
sebuah minimarket yang ada di sebrang jalan sana. Untungnya pemilik minimarket
itu mau mempekerjakan aku sebagai kasir di sana. Aku sangat bersyukur atas
semua itu,” jelasku dengan kepala tertunduk menatap riak air di hadapan kakiku.
Kemudian aku menoleh ke arah gadis berkerudung itu. Wajahnya memperlihatkan
ekspresi simpati atas cerita yang barusan di dengarnya walaupun hanya terlihat
dari samping.
Gadis itu kembali menanyakan sesuatu dengan
suara lembutnya yang terasa tegas, “Jadi, hujan ini menghalangimu merawat
ibumu?”
Aku terkejut dan segera membantah, “Tidak,
tidak menghalangi. Hanya saja lebih tepatnya menahanku untuk segera pulang ke
rumah.”
“Kamu benar, maafkan aku yang telah menanyakan
hal yang tidak sopan tadi kepadamu,” mohon gadis itu. Aku hanya memalingkan
pandanganku darinya. Gadis itu mengatakan hal yang sedikit membuatku tenang,
“Allah SWT. mencintai hamba yang berdoa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang
artinya, ‘Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,
sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut
(tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang
berbuat baik.’ Al-Qur’an surat Al-A’raaf ayat 56. Nah, berdoalah kepada Allah untuk
kesembuhan Ibumu di kala hujan turun membawa berkah yang berlimpah dari Allah
SWT.”
Mataku berbinar mendengarnya dan aku menoleh
pada gadis itu. Dia meneruskan ucapan hangatnya, “Rasulullah saw. bersabda yang
berarti, ‘Doa tidak tertolak pada dua waktu, yaitu adzan berkumandang dan
ketika hujan turun.’ Hadits riwayat Al Hakim, dishahihkan Al Albani,
dishahihkan Al Jami’. Jadi, mari kita berdoa bersama.” Dia mengajakku berdoa
bersama.
Aku dengan ragu bertanya pada gadis
berkerudung tertutup sampai pinggangnya itu, “Kamu mau mendoakan Ibuku juga? Kamu
bahkan belum terlalu mengenalku, tidak, bahkan kamu belum tahu namaku dan
begitu juga aku belum tahu namamu.” Gadis itu tersenyum lembut dan mengangguk
tanpa keraguan sedikit pun. “Baiklah, aku akan berdoa dalam hati.”
Aku menundukkan kepalaku, menengadahkan kedua
tanganku ke atas tepatnya di depan wajahku, dan menutup mataku. Kupusatkan pikiranku
membayangkan wajah Ibuku dan memulai doaku kepada Allah SWT. yang kuucapkan
dalam hati sanubariku yang terdalam, “Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah, Yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hambaMu di sini memohon kepadaMu untuk
menganggkat segala penyakit yang ada ditubuh Ibuku. Ya Allah, sembuhkan
penyakit TBC yang diderita Ibuku, berikanlah Ibuku kesehatan jasmani dan rohani
agar beliau dapat memberikanku nasihat kembali seperti saat dia sehat dulu. Ya
Allah, hamba mohon kabulkan doa hambaMu ini yang berdoa di kala hujan membasahi
bumi dan berkah serta rahmat dariMu berjatuhan di bumi ini, aamiin.”
Selesai berdoa, kubuka mataku, kuturunkan
tanganku, dan terasa, tetesan hangat menjalar di pipiku. Apa aku menangis tadi?
Aku bertanya pada diriku sendiri. Segera kuusap air mataku dan kembali menatap
ke depan. Hujan masih turun dengan derasnya. Tetesan air dari langit masih
berjatuhan menerpa bumi. Aku menoleh ke sampingku tempat gadis berkerudung itu
berdiri. Dia nampaknya baru selesai berdoa. Dia juga menoleh ke arahku.
“Sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku
harap kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti,” ucapnya lembut. Apakah ini
salam perpisahan darinya? Tapi paling tidak, seharusnya dia memberitahukan
namanya padaku.
Aku ingin menanyakan nama gadis berkerudung
itu, namun sebuah mobil mewah datang dan berhenti tepat di depan halte tempatku
berteduh saat ini dan menyebabkan aku tidak dapat berkata apa-apa. Seseorang
laki-laki berpakaian rapi dan resmi turun dari mobil dengan membawa payung. Dia
bergegas ke bagian mobil yang berdekatan dengan pinggiran halte dan membukakan
pintu depan mobilnya untuk gadis itu. “Terima kasih ayah,” ucap si gadis
berkerudung pada laki-laki yang dipanggilnya ayah.
“Maafkan ayah, Sayang. Ayah telat
menjemputmu,” ucap ayah si gadis berkerudung. Gadis itu dari dalam mobil hanya
tersenyum manis mendengar permohonan maaf dari ayahnya. Aku hanya terdiam
melihat kejadian dihadapanku ini. Ayah gadis itu melihat ke arahku. Aku sempat
terkejut karena dilihati oleh ayah si gadis berkerudung dengan tiba-tiba.
Namun, ayah gadis itu malah tersenyum padaku dan membuatku makin terkejut lagi.
Ayah si gadis juga mengucapkan hal ini padaku, “Terima kasih sudah menemani
anak saya di halte ini. Saya yakin kamu tidak mengganggu anak saya. Kalau
begitu, kami permisi.” Aku segera membalasnya dengan senyuman.
Aku berkata kepada ayah si gadis, “Seharusnya
saya yang berterima kasih kepada anak Anda karena telah mengingatkan saya akan
kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. yang telah saya lalaikan dalam mengingatnya.
Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT. karena dapat bertemu dengan anak Anda
hari ini. Untuk semua itu, saya ucapkan terima kasih.” Aku akhirnya dapat
dengan sungguh-sungguh mengucapkan terima kasihku kepada gadis itu dihadapan
ayahnya. Aku senang dengan keberanian yang aku punya saat ini.
“Oh, benarkah itu, Sayang?” ayahnya balik
bertanya pada si gadis berkerudung. Gadis hanya tersenyum menanggapi pertanyaan
ayahnya. “Baiklah kalau begitu. Ini kartu nama saya,” ayah si gadis menyodorkan
sebuah kartu nama yang berisi data dirinya kepadaku. Aku kembali terkejut dan
hanya bisa mengambil pemberiannya ini. “Jika kamu mau berta’aruf dengan anak
saya di kemudian hari, hubungi saya. Dikartu nama itu ada nomor telpon saya dan
nomor telpon kantor saya. Jadi, siapa namamu?”
Aku yang masih sangat, sangat, sangat terkejut
dengan perkataan tiba-tiba dari ayah si gadis menjadi salah tingkah saat memberitahukan
namaku, “Nama saya, Abdul Rahim.”
“Abdul Rahim, nama yang jarang dimiliki anak
muda zaman sekarang. Kalau begitu, jika kamu memang mau ta’aruf sebelum
menikahi anak saya, jangan sungkan hubungi saya dan bawa orang tuamu menemui
saya dan keluarga di rumah saya. Baiklah, kami permisi dulu. Assalamualaikum,”
salam ayah si gadis yang bergegas masuk ke dalam mobilnya.
“Wa’alaikumsalam,” balasku tepat sebelum ayah
si gadis memasuki mobilnya. Aku masih sempat melihat wajah si gadis sebelum
pintu tempatnya duduk tertutup. Dia terlihat malu mendengar perkataan ayahnya
yang tiba-tiba padaku barusan. Aku juga masih sangat terkejut mendengarnya.
Mobil mewah itu kembali menyala dan berjalan
menjauhi halte ini. Aku harap doaku bersama dengan gadis berkerudung syar’i itu
dapat dikabulkan oleh Allah. Semoga ibuku bisa cepat sembuh, sehingga aku bisa
mangajak bapak dan ibu pergi ke rumah gadis itu dan berta’aruf dengannya ketika
aku telah siap untuk menikahinya nanti.
Aku menengadahkan kepalaku menghadap langit
yang mulai berubah warna dari abu-abu menjadi biru cerah. Hujan yang menetes
deras mulai menetes perlahan dan menyisakan rintikan hujan yang kecil. Aku
meraih air hujan yang masih turun dengan telapak tanganku berada di atas.
Bergumam sendiri, aku mengatakan persis
seperti yang dikatakan gadis berkerudung itu saat bertemu denganku di halte
ini, “Raindrop, tetesan air hujan yang bening. Bukankah mereka terlihat sangat
indah?” Aku tersenyum dan menjawab pertanyaan gadis berkerudung itu yang belum
sempat aku jawab sembari melihat ke langit yang telah menjadi cerah seutuhnya,
“Ya, raindrop terlihat sangat indah.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar