Kamis, 16 Juli 2015

Selamat Idul Fitri 1436 H

Assalamu'alaikum wr. wb.

Akhirnya, sampailah kita di penghujung bulan Ramadhan.
Semoga Allah swt. menerima semua amal ibadah kita selama ini dan dosa-dosa kita diampuni oleh-Nya, dan kita dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi ke depannya, aamiin.

Alhamdulillah, saya bisa ngepos artikel-artikel Islami yang bersumber dari buku-buku Islam yang saya punya, sesuai dengan jumlah hari di bulan Ramadhan tahun ini. Walaupun tidak dipos satu artikel per hari dalam setiap harinya di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, namun saya merasa bersyukur karena bisa ngepos semua artikel yang telah dipos oleh saya banyaknya sudah mewakili satu hari satu artikel. Saya berharap, semua pengunjung blog ini dan semua pembaca artikel-artikel saya dapat merasa puas, mendapat manfaat dari semua artikel-artikel saya, dan dapat mengamalkan ilmu yang terkandung dalam semua artikel di blog ini, aamiin.
Saya ucapkan Terima Kasih banyak kepada semua pengunjung setia blog saya (^~^)

Akhir kata, Nurani (saya) dan Keluarga mengucapkan, "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin."

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Amal Shaleh

Amal Shaleh

            Kalau kita perhatikan, agama Islam yang dibawa nabi Muhammad saw., maka kita akan mengetahui: hakikatnya agama Islam itu adalah agama amal, yakni agama yang menganjurkan beramal. Agama yang memerintahkan kepada pemeluknya agar beramal untuk kepentingan masyarakat dan agama demi mencari ridha Allah swt. Kalau iman boleh diibaratkan laksana pohon, maka amal shaleh (kebaikan) itu adalah sebagai buahnya. Iman sebagai pohon, amal sebagai buahnya. Pohon yang sempurna pohon yangberbuah, demikian pula iman yang sempurna adalah iman yang dapat membuahkan amal kebaikan. Kalau iman atau kepercayaan itu tidak dapat membuahkan amal kebaikan, menunjukkan bahwa imannya tidak sempurna.
            Nabi kita Muhammad saw. tidak hanya pandai berbicara. Memang benar kata-kata beliau menarik perhatian, namun di balik itu sebenarnya beliau adalah pelopor beramal, penganjur beramal nomor satu. Beliau sendiri telah beramal untuk kepentingan agama dan kaum muslimin di dunia ini. Beliau pun telah beramal juga untuk kepentingan kemanusiaan, kesucian dan keadilan dikalangan umat manusia. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah swt. dalam surat Al-An’am ayat 135, yang artinya:

Katakanlah olehmu, hai Muhammad; hai kaumku, beramallah kamu menurut kadar kemampuanmu sesungguhnya aku ini orang yang beramal.”

            Semangat beramal inilah yang menyebabkan umat Islam pada zaman nabi Muhammad saw. dan juga pada masa keemasan Islam telah mengalami kemajuan dan kejayaan. Bahkan adanya semangat beramal inilah, maka ajaran-ajaran agama yang luhur itu dapat diamalkan dengan sungguh-sungguh, dapat dipraktekkan dan bisa dibuktikan dalam kenyataan, justru karena semangat beramal telah merasuk dalam hati mereka.
            Dan untuk memperoleh amal kebaikan yang sabanyak-banyaknya dan mencapai amal kebaikan yang sebenar-benarnya, hendaknya seseorang dalam hidup ini, mempercayai dengan sungguh-sungguh adanya Dzat Yang Maha Kuasa, ialah Allah swt. dan mempercayai adanya hari kiamat.
            Membenarkan kitab-kitab suci dan para nabi yang menjadi lampu dunia ini. Di samping itu, hendaknya patuh dan taat pada perintah Allah swt. dengan mengerjakan shalat secara baik, gemar bersedekah, zakat, dan beramal lainnya.


Tidur Dalam Islam

Tidur Dalam Islam

                Allah swt. berfirman, yang artinya:

Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am: 60).

            Al-Qurtubi berkata, “Yaitu menidurkan kalian dan mencabut jiwa kalian, serta dipisahkan dari jasadnya.” Allah juga berfirman:

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahanlah jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar: 42).

            Maka, Allahlah yang menggenggam jiwa seseorang ketika tidur dengan menghilangkan kemampuan inderanya dan menciptakan kelalaian dalam kondisi sadar. Allah menggenggam jiwa orang yang sedang tidur dan orang yang telah mati, kemudian Dia mengembalikan jiwa orang yang sedang tidur dan menahan jiwa yang telah mati. Dengan kejadian ini kita wajib memikirkan dan merenungi berbagai tanda kekuasaan Allah, dan bukan hanya satu tanda saja.
            Rasulullah saw. bersabda, “Setan mengikat ujung kepala salah seorang di antara kalian apabila tidur dengan tiga ikatan. Setiap ikatan mencengkram kalian sepanjang malam dan membuat kalian tertidur pulas. Jika seseorang bangun dan menyebut nama Allah (membaca doa), maka terlepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, terlepaslah ikatan yang kedua; dan jika ia shalat, terlepaslah ikatan ketiga; dan setelah itu ia menjadi segar dan bersih jiwanya. Namun, jika dia tidak melakukannya, maka jiwanya akan kotor dan dia menjadi pemalas.” (HR. Bukhari).
            Sesungguhnya, Allah memerintahkan kita untuk berlindung kepada-Nya dari setan dan tentaranya. Hadits ini memberitakan kepada kita bahwa setan selalu mengikuti kita ketika tidur dan setan tidak tidur. Setan berusaha keras melancarkan tipu dayanya, khususnya ketika kita tidur.
            Ingatlah bahwa Rasulullah saw. memberika kepada kita beberapa cara untuk menjaga diri dari godaan setan, seperti dzikir, wudhu, dan shalat. Maka, tubuh kita akan terasa segar dan terlindung dari tipu daya setan, serta jiwa kita menjadi bersih dan tidak bisa didekati setan yang kotor. Namun, jika kita lalai melaksanakan petunjuk petunjuk Nabi saw, tubuh kita menjadi letih dan malas, serta jiwa kita menjadi kotor.
            Ilham dan mimpi adalah dua kejadian yang berhubungan dengan tidur. Rasulullah bersabda dalam salah satu haditsnya, “Ilham adalah dari Allah dan mimpi adalah dari setan. Jika salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang buruk dalam tidurnya, maka ambillah nafas sabanyak tiga kali ketika bangun, dan berlindunglah kepada Allah dari sesuatu yang buruk, niscaya dia tidak akan membahayakanmu.” (HR. Bukhari).
            Rasulullah juga bersabda, “Apabila kiamat telah dekat, mimpi seorang muslim hampir tidak bohong, dan mimpi yang paling benar adalah sebuah perkataan yang benar. Mimpi seorang muslim bagian dari 45 bagian dari kenabian. Mimpi itu ada tiga macam; mimpi yang benar adalah kabar gembira dari Allah, dan mimpi yang menyedihkan dari setan, dan mimpi yang menceritakan tentang dirinya sendiri. Jika salah seorang di antara kamu mimpi buruk, maka bangunlah dan shalatlah, serta janganlah diceritakan kepada orang lain.” (HR. Imam Muslim).
            Mimpi adalah bagian dari kabar gembira seorang hamba yang shaleh yang diperlhatkan oleh Allah, dan takwil mimpi adalah ilmu yang dikhususkan Allah kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Al-Qur’an telah menyebutkan sebagian takwil mimpi, sebagaimana Nabi juga melakukannya, karena kondisi ruh ketika tidur sungguh menakjubkan, dan dengan bantuan ruh ini – hubungan ruh dengan Rabbnya – membuat ruh hidup di atas langit yang tak berujung.
            Allah swt berfirman, yang artinya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (QS. Al-Isra’: 85).

            Rasulullah saw. bersabda, yang artinya:

Tidur adalah saudaranya kematian, dan para penghuni surga tidak akan pernah tidur.” (HR. Ath-Thabrani).

            Ini adalah suatu kondisi dari beberapa kondisi kehidupan dunia. Adapun di akhirat tidak ada kematian dan tidak ada tidur. Namun, keadaan para penghuni neraka telah dijelaskan oleh Allah swt. dalam firman-Nya, yang artinya:

Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari  mereka adzabnya.” (QS. Fathir: 36).

            Sedangkan penghuni surga hidup kekal dan tidak pernah mati. Di akhirat hanya ada dua kemungkinan, yakni merasakan azab selamanya, atau mendapatkan kenikmatan yang kekal. Betapa indah jika setiap kali seorang mukmin tidur dia mengingat surga yang tidak pernah ada kematian dan tidur, tidak mengenal lelah dan sakit.
            Ketika manusia tidur, maka ia mengistirahatkan tubuhnya dari rasa lelah. Tidur adalah kenikmatan yang akan mengembalikan kondisi tubuh menjadi segar, aktif, dan kuat.
            Sesungguhnya, manusia tidur dan beristirahat, dan Allah swt dengan kekuasaan-Nya dan dengan sesuatu yang tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia Yang Maha Suci, Dia berbuat sesuatu kepada manusia dengan apa yang dikehendaki-Nya. Manusia tidur dalam keadaan lemah dan lalai, akan tetapi tubuhnya bekerja untuk memulihkan anggota tubuh yang lemah. Oleh karena itu, tubuh tidak pernah berhenti beraktivitas walaupun ketika manusia tidur. Semuanya bekerja sesuai dengan tugas yang telah diembannya. Namun, ketika manusia terbangun dari tidurnya, dia lupa terhadap karunia Allah dan juga lupa untuk bersyukur atas segala nikmat-Nya yang besar.
            Allah telah menetapkan kepada manusia rasa sakit, lelah dan letih. Allah swt. menjadikan sakit dan pembatasan untuk datangnya kemungkinan rasa sakit. Maka, apabila rasa sakit terus bertambah, akan menyiksa manusia; dan apabila rasa sakit terus berada dalam tubuh manusia, tidur adalah media untuk mengistirahatkan tubuh dari rasa sakit sesuai dengan qaktu tidur yang dijalaninya. Maha Suci Dzat yang telah mengatur urusan makhluk-Nya dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang tidak mampu dijalaninya.
            Allah swt. berfirman, yang artinya:

Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka, hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Quraisy: 1-4).

            Nikmat aman merupakan nikmat paling besar yang diberikan Allah kepada manusia. Manusia yang lapar biasanya sulit tidur, demikian juga manusia yang dirundung ketakutan sangat sedikit tidurnya. Oleh karena itu, tidurnya seorang manusia karena aman dari rasa lapar dan takut adalah sebuah nikmat besar yang diberikan Allah kepada manusia. Nabi saw. bersabda:

Barangsiapa yang bangun di pagi hari dalam keadaan aman di sekelilingnya, sehat tubuhnya, dan dalam sehari-harinya memiliki makanan pokok, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia dan isinya.” (HR. Imam Tirmidzi, hadits hasan gharib).

            Maka, bagaimana mungkin seorang mukmin tidak ingat bahwa dia bisa tidur setiap malam adalah nikmat yang diberikan Allah kepadanya.
            Ingatlah bahwa kita tidur di rumah, di tengah-tengah keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Kita tidak pernah kehilangan mereka dan mereka tidak pernah kehilangan kita, kecuali pada waktu tidur. Dan secara tiba-tiba maut merengut kita, dan kita tidur panjang di antara orang-orang yang telah mati dan di rumah-rumah orang telah mati – kuburan – , tanpa ditemani keluarga, tanpa dikelilingi orang-orang yang kita cintai. Tidak lama kemudian keluarga dan orang-orang yang  kita cintai tidak lagi mengingat kita – kecuali jarang – dengan doa atau yang lainnya.
            Tubuh ini hancur dimakan tanah, dan ruh ini tetap hidup dalam pedihnya siksaan atau indahnya kenikmatan. Maka, ketika tidur, apakah kita lupa mengingat alam kubur, kepedihannya, dan lamanya waktu yang dilewati bersama kegelapan?
            Lalai pertanda hati kita tidur, dan seorang mukmin hatinya selalu terjaga. Nabi saw. bersabda:

Kedua mataku tidur, akan tetapi hatiku tetap terjaga.” (HR. Imam Bukhari).

            Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita agar hati ini selalu terjaga dengan bersabda:

Sesungguhnya untuk mencegah kelalaian hatiku, aku beristighfar dalam satu hari sebanyak seratus kali.” (HR. Imam Muslim).

            Maka, cukuplah sudah bagi kita untuk tidur lama dan bermalas-malasan. Hendaknya kita membangunkan hati dari kelalaiannya dengan memperpanjang dzikir dan berpikir, sebelum dan sesudah tidur.
            Orang yang tidur dengan niat yang baik, dan bertekad untuk melaksanakan shalat malam, maka tidurnya dicatat sebagai amal shaleh. Juga, berniat untuk berusaha sehat dan segar ketika bangun, serta mengabdikan kesehatannya untuk taat kepada Allah dan berdakwah. Hal demikian, sangatlah bermanfaat karena dia telah menggunakan kekuatannya di jalan Allah.
            Tidur memiliki beberapa adab yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. dalam sunnah qauliyah dan fi’liyahnya. Adab-adab ini dijelaskan dalam beberapa hadist berikut ini:
            Nabi saw. bersabda, “Apabila malam telah tiba, maka tahanlah anak-anakmu untuk tidak berkeliaran di jalan-jalan, karena setan juga berkeliaran pada qaktu itu. Jika waktu isya’ telah lewat sesaat, lepaskanlah mereka dan tutuplah rumahmu. Lalu bacalah asma Allah dan padamkanlah lampu rumahmu. Kemudian sebutlah kembali nama Allah, dan ikatlah penutup makanan dengan rapat. Kemudian sebutlah nama Allah dan tutuplah tempat makanmu, lalu sebutlah nama Allah jika engkau menyimpan sesuatu di atasnya.” (HR. Imam Bukhari).
            Yang dipahami dari hadist ini adalah melarang anak-anak keluar rumah ketika hari sudah gelap, dan menutup rapat-rapat pintu rumah, serta mematikan semua lampu dan menutup tempat-tempat makanan, seraya menyebut asma Allah sebelum beranjak tidur.
            Nabi saw. bersabda, “Janganlah engkau tinggalkan api di rumahmu ketika engkau akan tidur.” (HR. Imam Bukhari).
            Artinya, Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk memadamkan kompor sebelum tidur, dan jangan membiarkannya menyala.
            Dari ‘Aisyah ra., bahwasanya Nabi saw. apabila akan pergi ke tempat tidurnya setiap malam beliau merapatkan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya seraya membaca, ‘Qul huwallahu ahad, Qul a’udzu bi rabbil falaq, dan Qul a’udzu bi Rabbin Nas’, kemudian beliau mengusapkan kedua tangnnya ke bagian tubuh yang terjangkau, dimulai dari kepala dan wajahnya, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali. Dan Rasulullah saw. bersabda, “Apabila kalian hendak tidur, maka berwudhulah, seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah ke sebelah kanan kemudian ucapkanlah, ‘Ya Allah, aku serahkan jiwaku kepada-Mu, aku hadapkan diriku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku berlindung kepada-Mu, dengan penuh harap dan takut kepada-Mu. Ya Allah aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan, kepada Nabi yang Engkau utus, maka jika aku mati pada malam ini tetapkan aku dalam fitrah, dan jadikanlah doa ini sebagai akhir dari ucapanku’.”  (HR. Imam Bukhari).
            Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu hendak tidur, maka kibaskanlah seprei kasurnya, karena dia tidak tahu ada apa sepeninggalnya. Kemudian bacalah, ‘Dengan menyebut nama-Mu Tuhanku, aku baringkan tubuhku di sampingku. Engkau yang mengangkat ruhku, jika Engkau menahan ruhku (mati) maka rahmatilah aku; dan jika Engkau mengembalikan ruhku, maka jagalah, seperti Engkau menjaga ruh hamba-hambamu yang shalih’.” (HR. Bukhari).
            Apabila Rasulullah saw. bangun dari tidurnya beliau membaca, yang artinya:

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nyalah kami dibangkitkan.” (HR. Imam Bukhari).

            Rasulullah saw. juga memerintahkan seorang muslim, apabila bangun dari tidurnya agar membaca, yang artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah menyehatkan tubuhku, dan mengembalikkan ruhku, dan mengizinkanku untuk mengingat-Nya.” (HR. Imam Tirmidzi, hadits hasan).

            Semua ini dilihat dari sisi introspeksi diri atas segala kesalahan, tekad kuat untuk melaksanakan ibadah shalat malam kemudian shalat Shubuh, dan membersihkan hati dari segala kedengkian, dan juga aktivitas-aktivitas lainnya yang merupakan bagian dari agama Islam.
            Hamba yang pintar dan cerdas selalu bersungguh-sungguh untuk dirinya sendiri dan tidak pernah lalai untuk bekerja keras. Dia menyukai tidur panjang. Hal yang demikian adalah jalan yang ditempuh oleh para pengangguran.
            Adapun mereka yang bersungguh-sungguh karena Allah, maka dengan keimanan yang mereka miliki, mereka akan diberi petunjuk oleh Allah, seperti Nabi kita Muhammad saw., yang sejak diutus oleh Allah swt. untuk semesta alam dengan surat Iqra’, kemudia Allah membimbingnya dengan surat selanjutnya, yaitu, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya).” (QS. Al-Muzzammil: 1-2). Wahai orang yang sedang tidur, bangunlah untuk beramal, “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzzammil: 5).
            Allah telah mengutus beliau untuk kaumnya dan untuk seluruh manusia di muka bumi ini dengan firman-Nya, “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan.” (QS. Al-Muzzammil: 1-2). Wahai orang yang sedang tidur, bangunlah untuk menyeru seruan Rabbnya.
            Lalu Rasulullah berdiri lama di malam hari hingga kedua tumit kakinya pecah-pecah, dan beliau selalu melakukannya sepanjang hidupnya. Hal ini selalu dilakukan oleh mereka yang mengemban amanat dakwah bersama beliau dan orang-orang setelah beliau.

Sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.” (QS. Al-Muzzammil: 20).

            Lalu di akhir hidup beliau yang penuh berkah, istri tercintanya berkata, “Mengapa engkau melakukan ini, wahai Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni seluruh dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Lalu Rasulullah bersabda, yang artinya:

Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang bersyukur.” (HR. Imam Bukhari).

            Waktu adalah kehidupan, dan tidur yang berlebihan hanya akan mendatangkan kerugian dalam hidup. Maka, seorang mukmin hendaknya mengurangi jatah tidurnya, membiasakan diri untuk beraktivitas, serta berlindung kepada Allah dari kelemahan dan sikap malas. Oleh karena itu, kita harus menetapkan waktu tidur dan bangun kita dengan penuh semangat, agar kita terhindar dari kerugian yang akan dialami di hari kiamat.
            Waktu persiapan untuk tidur adalah akhir dari segala aktivitas, waktu istirahat untuk tubuh, dan merupakan suasana yang tepat untuk berpikir. Waktu tersebut juga merupakan waktu yang tepat untuk introspeksi diri atas segala kekurangan yang pernah dilakukan dan meperbaharui niat untuk berbuat yang lebih baik jika umurnya masih tersisa. Rasulullah saw. bersabda, yang artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati dan kepada-Nyalah kami dibangkitkan.” (HR. Imam Bukhari).

            Ini adalah nikmat kembali ke dunia sebelum hari dibangkitkan tiba, dan tidak ada hari yang terbit di awalnya fajar, kecuali ada seruan, “Wahai anak Adam, akulah hari baru, dan amalmu akan menjadi saksi. Maka, manfaatkanlah aku sebaik-baiknya, karena aku tidak akan kembali sampai hari kiamat, sebelum ucapan orang-orang durhaka terdengar:


Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al-Mukminun: 99-100).”

Menyantap Makanan dan Minuman

Menyantap Makanan dan Minuman

            Menyantap hidangan, walaupun pada umumnya hukumnya mubah, akan tetapi pada suatu saat bisa menjadi sesuatu yang mendesak dan wajib untuk dilaksanakan oleh manusia. Seseorang yang dengan sengaja meninggalkan makan hingga mati, dia mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah karena ia telah membunuh dirinya sendiri. Maka, dalam keadaan seperti itu makan merupakan sebuah kewajiban dan menjadi ibadah sebagai aplikasi dari ketaatan dan kedekatan kita kepada Allah swt., di mana Allah swt. dengan kekuasaan-Nya menjadikan tubuh ini mengandung ruh dan nafsu yang diciptakan oleh Allah dengan tujuan untuk digunakan beribadah kepada-Nya.
            Kita harus mengambil manfaat dari gizi dan kandungan obat dalam makanan untuk kesehatan tubuh agar dapat menunaikan ketaatan kepada Allah. Sangat keliru orang yang menjadikan kelezatan makanan dan minuman sebagai satu-satunya tujuan, serta lalai mengambil hikmah dari tujuan makan dan minum itu sendiri.
            Berapa banyak nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita, seperti menjadikan tubuh kita kuat dan anggota tubuh kita bekerja siang dan malam, dalam keadaan tidur maupun terjaga, dalam keadaan diam maupun bergerak. Juga, kita selalu menemukan dalam kerongkongan kita sesuatu yang lezat lalu kita makan dan kita minum, kemudian manfaatnya akan diserap oleh tubuh, dan dari makanan itulah dapat menyembuhkan penyakit. Di antara beberapa kelenjar menyaring puluhan bahkan ratusan zat dengan ukuran yang sudah ditentukan, juga perangkat untuk pencernaan, pencampuran, penyaluran, penyimpanan, dan pemurnian. Maka, hati, ginjal, limpa, paru-paru, urat saraf, otak, otot-otot, dan lain sebagainya, semuanya bekerja aktif dan kita bisa menikmati sesuatu yang lezat. Kita bisa tidur dan beristirahat, berkeliling, berdiri, duduk, dan aktivitas lainnya. Di dalam tubuh kita memang ada kehidupan yang begitu rapi dan teratur. Maha Suci Dzat yang telah berfirman, yang artinya:

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21).

            Di antara nikmat Allah kepada kita adalah dijadikannya tubuh ini memiliki rasa lapar, haus, dan rasa sakit sehingga menjadi peringatan bagi kita untuk segera makan jika rasa lapar datang, segera minum ketika haus, dan segera minum obat ketika rasa sakit mendera. Nikmat Allah kepada kita juga adalah dikaruniakannya kelezatan makanan ketika makan dan minum, serta nyamannya beristirahat ketika rasa sakit telah hilang sehingga dengan bantuan tubuh ini kita mampu menjaga tugas kita untuk selalu taat kepada Allah Rabb semesta alam.
            Kita dituntut oleh Allah untuk memikirkan dan memperhatikan apa yang kita makan. Allah swt. berfirman, yang artinya:

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 24-32).

            Berbagai macam makanan yang ada di hadapan Anda, dengan warna dan rasa yang berbeda-beda adalah untuk kemaslahatan makhluk hidup di muka bumi ini dan cocok untuk setiap waktu. Setiap orang telah ditetapkan bagian-bagiannya sesuai untuk segala kondisi, ketika sehat, kuat, sakit, atau lemah. Makanan tersebut juga untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang memang membutuhkan, mencukupi orang yang meminta, menutupi orang yang kekurangan, mengenyangkan orang yang lapar, menyenangkan setiap orang yang tamak, mencukupi setiap orang yang merasa cukup, dan mengingatkan setiap orang yang lalai.
            Jenis dan warna makanan ada yang hijau, kering, halus, kasar, manis, pahit, cair, beku, panas, dan dingin, semuanya baik dan enak rasanya, dan baik juga jika makanan tersebut dicampur satu sama lain. Ada bahan makanan yang bisa disimpan dalam waktu yang lama, dan ada jenis makanan yang langsung dimakan dalam keadaan segar, karena jika ditunda memakannya, akan membusuk. Ada jenis makanan yang bermanfaat untuk dijadikan makanan pokok, dan ada yang bisa dimanfaatkan untuk obat. Firman Allah, yang artinya:

“Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf: 69).

            Yakni mata yang bisa melihat indahnya warna-warni makanan, hidung yang bisa menghirup bau masakan yang lezat, dan lidah yang bisa merasakan lezatnya sebuah masakan. Dia berfirman, yang artinya:

“Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 13).

            Untuk menyantap makanan ada beberapa adab syar’i yang harus dilaksanakan. Nabi Muhammad saw. telah menjelaskan dalam sunnah qauliyah (perkataan) dan fi’liyah(perbuatan) beliau, seperti makan sambil duduk, membaca bismillah (tasmiyyah), makan dengan tangan kanan, berkumpul ketika makan, mengambil makanan dari sisi piring, dan tidak menyisakan sedikit pun makanan dipiring hingga tidak sia-sia dan terbuang. Juga, jangan mengambil makanan, kecuali sesuai dengan ukuran yang kita mampu, memungut makanan yang jatuh, menyingkirkan kotoran yang berada pada makanan, tidak meninggalkan makanan untuk setan, mencuci kedua tangan sebelum dan sesudah makan, dan etika-etika makan lainnya.
            Dari ‘Umar bin Abi Salamah ra., ia berkata, “Ketika kecil aku diasuh oleh Rasulullah saw., dan tanganku tidak teratur dalam mengambil makanan di dalam piring yang besar. Lalu Rasulullah saw. bersabda, yang artinya:

Wahai anakku, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, makanlah apa yang ada di depanmu.’ Aku pun selalu melakukannya pada makananku sesudah itu.” (HR. Imam Bukhari dalam Shahihnya).

            Dari Hudzaifah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda, yang artinya:

“Sesungguhnya setan ikut makan dengan orang yang tidak membaca bismillah sebelumnya.” (HR. Imam Muslim dalam Shahihnya).

            Dari ‘Aisyah ra. bahwasanya Nabi saw bersabda, yang artinya:

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka ucapkanlah, ‘Bismillah (dengan menyebut nama Allah)’, dan jika ia lupa, membacanya di awal makan, maka ucapkanlah, ‘Bismillah fi awwalihi wa akhirihi (dengan menyebut nama Allah di awal dan di akhirnya)’.” (HR. Imam Tirmidzi, hadist hasan shahih).

            Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Nabi saw. bersabda, yang artinya:

“Janganlah kalian minum sekaligus seperti minumnya unta, tapi minumlah dua kali dan tiga kali tegukan. Bacalah bismillah apabila kalian akan minum, dan bacalah hamdalah apabila kalian telah selesai minum.” (HR. Imam Tirmidzi, hadist gharib dan didha’ifkan oleh Albani).

            Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang tidur dan ditangannya masih ada bau lemak daging, dan ia pun tertimpa sesuatu, maka janganlah ia mencela kecuali pada dirinya sendiri.” (HR. Imam Tirmidzi, hadits hasan gharib dan dishahihkan oleh Albani).

            Dari ‘Aisyah ra., ia berkata, “Rasulullah saw. apabila akan tidur dan beliau dalam keadaan junub maka beliau berwudhu, dan apabila beliau akan makan atau minum beliau mencuci kedua tangannya kemudian beliau makan atau minum.” (HR. Imam Nasa’i, dishahihkan oleh Al-Albani).
            Dari Abu Juhaifah ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda, yang artinya:

“Aku tidak makan sambil bersandar.” (HR. Imam Bukhari).

            Dari Anas ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda, yang artinya:

“Apabila sekerat daging salah seorang di antara kalian jatuh, maka singkirkanlah kotorannya lalu makanlah, dan jangan meninggalkan untuk setan. Dan kamu juga diperintahkan untuk membersihkan piring. Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kalian tidak tahu makanan yang mana yang mengandung berkah’.” (HR. Imam Muslim).

            Dari Abu Umamah, bahwasanya Nabi saw. bersabda, “Apabila Rasulullah selesai makan, beliau membaca:

“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan berkah, yang tak akan pernah habis, tak akan ditinggalkan dan senatiasa dibutuhkan, wahai Rabb kami.” (HR. Imam Bukhari).

            Dari Anas ra., bahwa Nabi saw. bersabda, yang artinya:

“Sesungguhnya Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba yang makan sebuah makanan, lalu mengucapkan hamdalah, atau minum segelas minuman, lalu mengucapkan hamdalah.” (HR. Imam Muslim).

            Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Nabi saw. tidak pernah mencela makanan apa pun. Jika berselera, beliau memakannya; dan jika tidak, beliau meninggalkannya.” (HR. Imam Bukhari).
            Hendaknya kita menjaga adab-adab tersebut dan mengajarkannya kepada keluarga, saudara, maupun teman kita sehingga mereka terbiasa dan menjadi bagian dari sifat mereka. Dan tidak lupa untuk saling mengingatkan satu sama lain agar bisa menerapkan adab-adab makanan makanan dan minuman yang sesuai dengan syar’i.
            Mengatur waktu makan yang teratur merupakan bagian terpenting dalam menjaga kesehatan dan bisa membuat kita terbiasa menghormati waktu, serta selalu menunaikan kewajiban tepat pada waktunya. Makanlah tiga kali sehari dan aturlah waktu yang paling sesuai agar kita bisa makan dengan nyaman.
            Menyantap hidangan adalah nafsu, kelezatam dan kesenangan, terlebih bagi orang yang sangat lapar. Maka, barang siapa ingin mendidik kesebaran dan kesungguhan diri, hendaklah ia membiasakan diri untuk bersabar ketika lapar dan jangan memenuhi seluruh perutnya dengan makanan.
            Nabi Muhammad saw. telah mencontohkan dalam sunnahnya, dari Miqdad bin Ma’dikarib, bahwasanya Nabi saw. bersabda, yang artinya:

“Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga dari perutnya hendaknya diisi untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Imam Tirmidzi, hadits hasan shahih).

            Kita harus bisa bersabar ketika lapar, sabar saat melihat berbagai jenis makanan, minuman, dan buah-buahan. Juga, bersabar akan kemungkinan susahnya hidup, atau terhadap jenis makanan yang selalu sama.
            Makan bersama-sama terutama bersama keluarga merupakan kebiasaan orang shaleh, serta menunjukkan akhlak dan agama yang baik. Jadi, usahakanlah agar bisa makan bersama-sama walaupun hanya seminggu satu kali jika memang tidak bisa tiap hari.
            Diriwayatkan bahwa para sahabat Nabi saw. berkata, “Wahai Rasulullah, kamu makan tapi kami tidak kenyang.” Rasul bersabda, “Apakah kalian makan dengan terpisah?” Mereka menjawab, “Ya.” Lalu Rasul bersabda, yang artinya:

“Berkumpullah kalian ketika makan, dan sebutlah nama Allah, niscaya Allah akan memberikan keberkahan kepada kalian di dalam makanan tersebut.” (HR. Imam Abu Dawud, dianggap hasan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar, dishahihkan oleh As-Suyuthi).

            Berkumpul saat makan juga dapat menimbulkan kegembiraan serta rasa kasih sayang. Juga merupakan kesempatan yang baik untuk berbincang-bincang dan melepas kerinduan.
            Menyantap hidangan memiliki seni selera karena waktu menyantap makanan mesti mengundang selera. Ketika makan, kita tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat orang lain menjadi risih dan menganggap perbuatan itu tidak baik sehingga menghilangkan selera makannya.
            Di antara perilaku-perilaku yang tidak baik ketika makan adalah bersendawa dengan suara yang keras ketika makan, mengambil daging dengan ukuran yang terlalu besar, minum dengan mengeluarkan suara yang terdengar oleh orang lain, dan mengunyah makanan dengan mengeluarkan suara. Juga, membuka mulut lalu memasukkan jari ke dalam mulut dan mengambil makanan yang terselip di dalamnya, mengembalikkan sendok yang telah dipakai dan menyimpannya di piring yang digunakan oleh umum. Atau juga, meludah berdahak dengan cara yang tidak pantas, menguasai seluruh makanan yang ada atau salah satu menu makanan yang paling enak dan tidak memberikan kesempatan kepada yang lain untuk mencicipinya, dan perilaku-perilaku lainnya yang mengganggu orang lain, termasuk merusak kesenangan orang lain yang sedang makan.

            Jadi, marilah kita sebagai orang-orang yang beriman untuk menjaga adab makan dan minum kita. Kita juga harus menghormati orang lain yang sedang menyantap hidangan dengan tidak mengganggunya sampai menghilangkan nafsu makannya. Mari kita sama-sama mengamalkan sunah Rasulullah saw. dalam menyantap hidangan.

Senin, 13 Juli 2015

Banyak Melihat

Banyak Melihat

1.     Jangan Berlebihan dalam Melihat Dunia

            Sangat jarang orang yang memperhatikan hal ini, sehingga banyak orang yang melakukannya. Salah satu bentuknya adalah banyak memandang kemewahan dunia dan keindahannya. Misalnya melihat istana dan gedung-gedung megah, melihat mobil-mobil mewah, melihat orang yang pulang pergi, orang yang berjalan dan orang yang duduk.
            Jika diperhatikan, ketika seseorang pertama kali masuk ke rumah saudaranya, ia mengarahkan pandangannya  ke seluruh sudut rumah dan tempat duduk. Padahal saudarany itu status sosialnya sama dengan dirinya. Bagaimana jika ia masuk ke rumah orang yang kaya? Dari sini dapat kita pahami mengapa raja-raja Persia, Romawi, dan raja-raja setelahnya sangat berambisi meletakkan perhiasan di singgasannya, saat para juru dakwah kaum Muslimin mendatangi mereka. Hal ini agar menjadi fitnah pertama bagi para juru dakwah dan agar sikap mereka terpengaruh setelah melihatnya. Rasulullah saw. bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang mendatangi pintu para penguasa maka ia akan terfitnah.” (Shahih al-Jami’, no. 68).

            Allah swt. berfirman, yang artinya:

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami cobai mereka dengannya, dan karunia Rabb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 133).

            Syaikh as-Sa’di menyebutkan, “Maksudnya, janganlah engkau tujukan kedua matamu dengan rasa kagum. Janganlah engkau banyak melihat karena memandang indah keadaan dunia dan apa yang dinikmati manusia berupa makanan dan minuman yang lezat, pakaian yang mewah dan gedung yang megah serta perempuan yang cantik. Karena itu semua adalah perhiasan dunia yang dipandang indah oleh orang-orang yang tertipu dan membuat kagum mata orang-orang yang berpaling (dari Allah swt.). kemudian semua itu pergi dengan cepat, hilang tanpa berbekas dan membunuh para pencinta dan pengagumnya sehingga mereka menyesal secara tak berarti. Mereka akan mengetahui keadaan ini ketika mereka dibangkitkan di Hari Kiamat. Sesungguhnya semua ini hanyalah sebagai ujian dan agar Allah mengetahui siapa yang menikmatinya, tertipu dengannya dan mengetahui siapa orang yang paling baik amalnya.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 466).
            Nabi Muhammad saw. bersabda, yang artinya:

“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang diatas kalian. Sesungguhnya hal itu lebih baik bagi kalian, agar kalian tidak mengingkari nikmat Allah yang diberikan kepada kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

            Orang yang menuruti pandangannya terhadap segala sesuatu yang ada pada manusia, maka ia merasakan kesedihan dalam waktu lama. Penjelasan ini menerangkan kepada kita dengan jelas tentang kehidupan yang dialami banyak orang. Tidak habis-habisnya mereka saling berlomba membeli kebutuhan tambahan. Setiap kali mereka gembira dengan barang baru yang telah mereka beli, mereka kembali sedih dan sempit dada ketika melihat orang lain memiliki barang yang sama atau yang lebih bagus darinya.
            Perhatikanlah perkataan yang sangat berharga dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut ini, “Melihat pepohonan, kuda, binatang ternak, jika dengan mengagumi keindahan dunia, kekuasaan dan harta, maka perbuatan ini tercela. Ini berdasarkan firman Allah swt dalam Al-Qur’an surah Thaha ayat 131. Namun, jika melihatnya bukan dengan pandangan yang tidak mengurangi agama, tapi hanya untuk menghibur diri, seperti melihat bunga, maka hal ini merupakan perbuatan batil yang dapat dimanfaatkan untuk kebenaran.” (Mukhtashar al-Fatawa al-Mishriyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 35).
            Ibnu al-Qayyim berkata, “Banyak melihat akan menumbuhkan kekaguman. Apa yang dilihat akan membekas dalam hati, lalu seseorang berpikir untuk mendapatkannya. Karena itu, awal munculnya fitnah adalah banyak melihat. Terjadinya banyak musibah yang besar, semuanya diakibatkan banyak melihat.” (Badai’ al-Fawaid, (II/229)).

2.     Obat Banyak Melihat

            Hendaknya seseorang terikat dan menambatkan hatinya pada akhirat dan surga. Karena semua kelezatan dan kenikmatan yang ada di dunia ini, tidak lebih baik dan lebih kekal daripada kelezatan dan kenikmatan di surga.
            Barra’ bin Azib ra. menceritakan, “Aku diberi hadiah oleh Nabi berupa baju dari sutera. Kemudian para sahabat memegang-meganggnya dan kagum dengan lembutnya baju itu. Nabi saw. bersabda, yang artinya:

Apakah kalian kagum dengan lembutnya pakaian ini? Sesungguhnya sapu tangan Sa’d bin Mu’adz di surga lebih bagus dan lembut daripadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).”


            Penawar lainnya adalah hendaknya kita banyak memandang segala sesuatu yang kita lalui atau apa yang melalui akan menjerumuskan kita ke dalam kehancuran.

Minggu, 12 Juli 2015

Takut Kepada Allah

Takut Kepada Allah

            Khauf (takut) kepada Allah swt. ialah menahan nafsu dan semua anggota badannnya dari perbuatan maksiat dengan penuh kekuatan. Banyak sekali dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang khauf (takut) kepada Allah swt. dan siksaannya, diantaranya, yaitu:

1.      Dalam surah An-Naziat ayat 40-41, yang artinya:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhan-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat kembali (nya).”

2.      Dalam surah An-Nahl ayat 50, yang artinya:

“Mereka takut kepada Tuhannya yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan yang diperintahkan (kepada mereka).”

3.      Dalam surah Ali Imran ayat 175, yang artinya:

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti dengan pengikut-pengikutnya (kepada kalian). Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar beriman.”

            Maka dari itu, kita sebagai umat Islam dan orang-orang yang beriman haruslah takut hanya kepada Allah swt. saja. Kita tidak boleh takut dengan makhluk-makhluk ghaib atau orang-orang yang sudah meninggal, apalagi sampai percaya kalau makhluk ghaib dan orang yang meninggal itu bisa melakukan dan mengatur suatu urusan serta mendatangkan mudarat (bahaya). Jika kita percaya hal seperti itu, maka kita termasuk orang yang melakukan syirik khauf (takut) yang termasuk syirik besar yang dosanya sangat besar.

            Adapun takut kepada hewan liar atau kepada orang hidup yang zhalim tidak termasuk dalam syirik ini. Itu adalah ketakutan yang merupakan fitrah dan tabiat manusia, dan tidak termasuk syirik. Namun, harus diingat, takutlah hanya kepada Allah swt. dengan selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Sabtu, 11 Juli 2015

Berdo’a Kepada Allah swt.

Berdo’a Kepada Allah swt.

            Do’a artinya menyeru, memohon, dan mengharap sesuatu dari Allah Yang Maha Pencipta. Kita sebagai muslim yang beriman, maka didalam kehidupan manusia memerlukan landasan yang dapat menentramkan jiwanya atau tali yang dapat menjadi pegangannya. Adapun yang dimaksud daripada landasan dan tali itu ialah do’a.
            Berdo’a merupakan kebutuhan rohaniah yang dibutuhkan manusia di dalam kehidupan ini, lebih-lebih disaat ditimpa oleh kesusahan, kesulitan, dan malapetaka. Bahakan bagi kalangan ulama ada yang mengumpamakan bahwa do’a itu seperti obat bagi penyakit rohaniah, yaitu berupa penyakit takut, bimbang, dan cemas, dan sebagainya.
            Banyak manusia, baru berdo’a kepada Allah bila mendapat kesusahan atau ditimpa bencana. Bila keadaan sudah tenang atau beroleh nikmat, jangankan berdo’a, bahakan lupa dan melalaikannya. Dia pun telah menyangka, bahwa nikmat yang dia dapatkan itu berasal dari usaha kerasnya sendiri. Kita sebagai muslim, tentunya mengetahui bahwa tanpa adanya bantuan dan pertolongan Allah swt. maka nikmat (keberhasilan) itu tidak akan kita peroleh dalam kehidupan ini.
            Perlu kita ketahui bahwa do’a adalah inti ibadah. Sebagaimana penegasan nabi Muhammad saw. dalam hadist riwayat Bukhari, yang artinya:

“Do’a itu adalah intisari ibadah.”

            Karena itu jangalah kita termasuk orang yang melupakan do’a, yaitu di kala senang berhenti berdo’a, dan saat susah tiada henti-hentinya berdo’a. Hal ini adalah apa yang telah ditegaskan oleh Allah swt. dalam surat Fushshilat ayat 51, yang artinya:

“Apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia memalingkan diri dan berbuat sombong. Tetapi apabila bahaya datang menimpanya, diapun berdo’a panjang lebar.”

            Perlu sekali sebagai hamba Allah yang beriman kepada-Nya senantiasa berdo’a hanya kepada Allah swt. dan membaca istighfar pada setiap waktu karena dengan bacaan istighfar yang kita panjatkan kepada Allah, maka kita akan meraih ampunan dari Allah. Dan bila bertobat kepada Allah dengan sungguh-sungguh, insya Allah tobat kita akan diterima oleh Allah swt. dan dosa-dosa kita akan diampuni. Nabi Muhammad saw. bersabda, yang artinya:

“Kalau kita melakukan kesalahan bertumpuk-tumpuk sampai selangit, kemudian bertobat, maka Allah berkenan menerima tobatmu.”

            Berikut ini merupakan adab-adab berdo’a menurut Imam Ghazali, yaitu sebagai berikut:

·        Dilakukan pada waktu yang mulia, seperti hari Arafah, bulan Ramadhan, waktu Sahur, dan pada Hari Jum’at.
·        Dilakukan dalam keadaan khidmat, seperti waktu sujud, ketika hati tenang dan bersih daripada gangguan setan.
·        Menghadap kiblat dan mengangkat tangan.
·        Merendahkan suara sekedar dapat didengar sendiri atau orang yang ada disisinya.
·        Memakai bahasa yang sederhana yang menunjukkan kerendahan hati. Lebih diutamakan do’a-do’a yang berasal dari Nabi Muhammad saw. atau sahabat atau tabi’in, yakni do’a yang ma’tsur.
·        Merendahkan diri dan menundukkan hati (Khusyu dan khudhu’).
·        Meyakini do’anya pasti dikabulkan Allah, tidak kecewa atau gelisah bila do’anya belum dikabulkan.
·        Mengulangi do’anya hingga tiga kali, dengan keyakinan penuh.
·        Memulai do’a dengan menyebut Allah, Al Hamdulillah dan shalawat nabi.
·        Melaksanakan adab bathin, agar diperkenankan do’anya, yaitu taubat sebelum berdo’a, menghadapi diri sepenuhnya pada Allah, makan minum, dan berpakaian dari yang halal dan tidak berdo’a yang mustahil atau mencelakakan orang, kecuali orang dzhalim.

Jumat, 10 Juli 2015

Mengingat Allah

Mengingat Allah

            Mengingat Allah swt. adalah mengagungkannya, mensucikannya, mengucapkan; Allah, mengucapkan tasbih (subhanallah) dan melakukan pujian kepadaNya dengan segala macam bentuk dan cara. Adapun cara berdzikir itu ada dua cara, yaitu:

1.      Dzikir dengan hati.
2.      Dzikir dengan lisan.

            Mengenai berdzikir (mengingat) Allah swt. dalam beberapa surat dalam Al-Qur’an, Allah telah memerintahkan, diantaranya, yaitu pada surah Ali Imran ayat 41, yang artinya:

“Dan ingatlah sebanyak-banyaknya kepada Tuhanmu dan ucapkanlah tasbih, dikala sore dan pagi.”

            Juga firman Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 41 – 42, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, sebut dan ingatlah Allah sebanyak mungkin. Bertasbihlah dan pujalah Dia di kala pagi dan di kala petang.”

            Juga firman Allah dalam surah Al A’raaf ayat 205, yang artinya:

“Dan ingatlah Tuhanmu di dalam hati dengan merendahkan diri dan takut.”

            Demikian juga dalam hadist Qudsi ditegaskan oleh Allah, yang artinya:

“Wahai anak-anak adam, apabila engkau ingat kepadaKu dalam keadaan sunyi sepi, Aku akan ingat pula kepadamu dalam keadaan sunyi sepi. Dan apabila engkau ingat kepadaKu di tengah khalayak ramai, Aku akan ingat pula kepadamu di tengah khalayak ramai yang lebih baik dari tempat engkau ungat kepadaKu.” (Hadist Qudsi riwayat bazzar yang bersumber dari Ibnu Abbas ra).


            Menyebut dan selalu ingat kepada Allah merupakan hal yang amat penting bagi kehidupan orang muslim. Tanda akan cinta kepada Allah, tentu saja akan selalu ingat kepadaNya pada setiap waktu. Ingat kepada Allah itu tidak dalam lidah saja akan tetapi haruslah kita resapi dan kita hayati, betapa besar kekuasaan Allah dan betapa besar karunia nikmatNya.