Banyak Melihat
1. Jangan Berlebihan dalam Melihat Dunia
Sangat jarang orang yang memperhatikan hal ini, sehingga banyak orang yang melakukannya. Salah satu bentuknya adalah banyak memandang kemewahan dunia dan keindahannya. Misalnya melihat istana dan gedung-gedung megah, melihat mobil-mobil mewah, melihat orang yang pulang pergi, orang yang berjalan dan orang yang duduk.
Jika diperhatikan, ketika seseorang pertama kali masuk ke rumah saudaranya, ia mengarahkan pandangannya ke seluruh sudut rumah dan tempat duduk. Padahal saudarany itu status sosialnya sama dengan dirinya. Bagaimana jika ia masuk ke rumah orang yang kaya? Dari sini dapat kita pahami mengapa raja-raja Persia, Romawi, dan raja-raja setelahnya sangat berambisi meletakkan perhiasan di singgasannya, saat para juru dakwah kaum Muslimin mendatangi mereka. Hal ini agar menjadi fitnah pertama bagi para juru dakwah dan agar sikap mereka terpengaruh setelah melihatnya. Rasulullah saw. bersabda, yang artinya:
“Barangsiapa yang mendatangi pintu para penguasa maka ia akan terfitnah.” (Shahih al-Jami’, no. 68).
Allah swt. berfirman, yang artinya:
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami cobai mereka dengannya, dan karunia Rabb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 133).
Syaikh as-Sa’di menyebutkan, “Maksudnya, janganlah engkau tujukan kedua matamu dengan rasa kagum. Janganlah engkau banyak melihat karena memandang indah keadaan dunia dan apa yang dinikmati manusia berupa makanan dan minuman yang lezat, pakaian yang mewah dan gedung yang megah serta perempuan yang cantik. Karena itu semua adalah perhiasan dunia yang dipandang indah oleh orang-orang yang tertipu dan membuat kagum mata orang-orang yang berpaling (dari Allah swt.). kemudian semua itu pergi dengan cepat, hilang tanpa berbekas dan membunuh para pencinta dan pengagumnya sehingga mereka menyesal secara tak berarti. Mereka akan mengetahui keadaan ini ketika mereka dibangkitkan di Hari Kiamat. Sesungguhnya semua ini hanyalah sebagai ujian dan agar Allah mengetahui siapa yang menikmatinya, tertipu dengannya dan mengetahui siapa orang yang paling baik amalnya.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 466).
Nabi Muhammad saw. bersabda, yang artinya:
“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang diatas kalian. Sesungguhnya hal itu lebih baik bagi kalian, agar kalian tidak mengingkari nikmat Allah yang diberikan kepada kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Orang yang menuruti pandangannya terhadap segala sesuatu yang ada pada manusia, maka ia merasakan kesedihan dalam waktu lama. Penjelasan ini menerangkan kepada kita dengan jelas tentang kehidupan yang dialami banyak orang. Tidak habis-habisnya mereka saling berlomba membeli kebutuhan tambahan. Setiap kali mereka gembira dengan barang baru yang telah mereka beli, mereka kembali sedih dan sempit dada ketika melihat orang lain memiliki barang yang sama atau yang lebih bagus darinya.
Perhatikanlah perkataan yang sangat berharga dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut ini, “Melihat pepohonan, kuda, binatang ternak, jika dengan mengagumi keindahan dunia, kekuasaan dan harta, maka perbuatan ini tercela. Ini berdasarkan firman Allah swt dalam Al-Qur’an surah Thaha ayat 131. Namun, jika melihatnya bukan dengan pandangan yang tidak mengurangi agama, tapi hanya untuk menghibur diri, seperti melihat bunga, maka hal ini merupakan perbuatan batil yang dapat dimanfaatkan untuk kebenaran.” (Mukhtashar al-Fatawa al-Mishriyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 35).
Ibnu al-Qayyim berkata, “Banyak melihat akan menumbuhkan kekaguman. Apa yang dilihat akan membekas dalam hati, lalu seseorang berpikir untuk mendapatkannya. Karena itu, awal munculnya fitnah adalah banyak melihat. Terjadinya banyak musibah yang besar, semuanya diakibatkan banyak melihat.” (Badai’ al-Fawaid, (II/229)).
2. Obat Banyak Melihat
Hendaknya seseorang terikat dan menambatkan hatinya pada akhirat dan surga. Karena semua kelezatan dan kenikmatan yang ada di dunia ini, tidak lebih baik dan lebih kekal daripada kelezatan dan kenikmatan di surga.
Barra’ bin Azib ra. menceritakan, “Aku diberi hadiah oleh Nabi berupa baju dari sutera. Kemudian para sahabat memegang-meganggnya dan kagum dengan lembutnya baju itu. Nabi saw. bersabda, yang artinya:
“Apakah kalian kagum dengan lembutnya pakaian ini? Sesungguhnya sapu tangan Sa’d bin Mu’adz di surga lebih bagus dan lembut daripadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).”
Penawar lainnya adalah hendaknya kita banyak memandang segala sesuatu yang kita lalui atau apa yang melalui akan menjerumuskan kita ke dalam kehancuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar