Selasa, 30 Juni 2015

Hidup Bertetangga

Hidup Bertetangga

            Konsep Islam perlu sekali diterapkan dalam kehidupan bertetangga, sehingga pergaulan terhadap tetangga bisa harmonis. Berbuat baik kepada tetangga merupakan hal yang disyariatkan oleh agama Islam. Oleh karena itu orang-orang beriman harus mampu menciptakan rasa hormat, mencintai, dan menyayangi terhadap tetangga. Jangan sekali-kali menyakiti tetangga, baik dengan omongan maupun perbuatan.
            Jadi berbuat baik kepada tetangga haru benar-benar menjadi kenyataan dalam kehidupan ini, agar kita bisa dibilang orang beriman kepada Allah yang sesungguhnya. Nabi Muhammad saw. bersabda yang artinya:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

            Agar kita termasuk umat Islam yang baik menurut pandangan Allah, maka berbuat baiklah kepada teman, maupun tetangga. Dan perbuatan baik yang kita lakukan tersebut hendaklah karena Allah semata. Bukan pamrih, tidak ingin disanjung dan dipuji. Rasulullah saw. bersabda yang artinya:

“Sebaik-baik teman menurut pandangan Alah ialah orang yang paling baik kepada temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang paling baik kepada tetangganya.” (HR. Tirmidzi).

            Tidak sedikit kita jumpai dalam hidup bertetangga ada tetangga yang jahat. Untuk menghadapi tetangga yang jahat maka kita perlu menerapkan kesabaran yang mendalam. Jadi, tetangga yang jahat tidak boleh dibalas dengan kejahatan.

Senin, 29 Juni 2015

Persaudaraan Sesama Muslim

Persaudaraan Sesama Muslim

            Semua umat Islam tentu saja mendambakan suatu kedamaian karena dengan kedamaian hidup bisa tenang, makmur, dan juga terjamin dalam melaksanakan berbagai aktivitas. Untuk menciptakan suasana yang yang sedimikian ini, maka dibutuhkan rasa persaudaraan dan kesatuan umat. Rasa bersatu padu bisa terealisasi dalam kehidupan sehari-hari apabila umat Islam satu sama lain saling menyayangi, mencintai, dan saling mengasihi. Sifat-sifat yang baik semacam itu harus benar-benar kita terapkan mulai dari lingkungan keluarga sampai lingkungan yang luas yakni umat Islam di seluruh penjuru dunia.
            Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Kamu akan melihat orang-orang beriman dalam saling menyayangi, saling mencintai, saling mengasihinya, bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota saja sakit maka tertariklah bagian anggota yang lain ikut sakit, dengan tidak dapat tidur dan badan panas.” (HR. Bukhari dan Muslim).

            Itulah kepribadian baik yang diterapkan umat Islam satu sama lain dalam kehidupan ini. Kalau kita merasa jadi orang beriman sesungguhnya, maka yang namanya menyakiti sesama Islam tidak mungkin ada, baik itu melalui ucapan yang tidak baik, atau perbuatan, karena sesama umat Islam bagaikan satu tubuh, bila satu anggota ada yang sakit, maka terasa sakit semua anggota badan tersebut.
            Juga sabda Rasulullah saw.:

“Orang mukmin terhadap mukmin lainnya, tak ubahnya bagaikan suatu bagunan yang bagian-bagiannya (satu sama lain) kuat menguatkan.” (HR. Muslim).

            Orang beriman hendaklah saling memberikan pengertian yang baik, saling menasihati satu sama lain dengan kebenaran dan kesabaran. Jangan sampai di natara kita, bila melihat saudaranya melakukan hal-hal yang tidak baik, dia tidak diberi nasihat yang baik, malah dibenci, dicaci maki, bahkan dimarahi, dengan demikian akan timbul dampak yang negatif dalam persaudaraan yang bisa meretakkan hubungannya. Untuk menghadapi hal semacam ini, maka menasihati sesama saudara benar-benar harus diterapkan dalam segala hal, agar saudara kita tidak akan berlarut-larut dalam kejelekan. Dan memberi nasihat haruslah dengan kata yang halus, arif, dan bijak. Umat beriman di mana saja menjadi saudara kita, oleh karena itu ciptakan rasa persaudaraan yang penuh dengan kebaikan lahir dan batin.
            Tentang pentingnya menasihati sesama mukmin, maka Nabi Muhammad saw. bersabda:


“Orang mukmin itu adalah menjadi saudara sesama mukmin (karena itu) janganlah meninggalkan memberi nasihat dalam segala hal.” (HR. Ibnu Najjar).

Minggu, 28 Juni 2015

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

            Amar ma’ruf  nahi munkar memiliki arti memerintahkan kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Orang Islam satu sama lain adalah saudara. Untuk itu, bila kita menjumpai kemunkaran di lingkungan kita, maka hendaklah secepat mungkin untuk dihapus karena menegakkan amar ma’ruf nahi munkarmenjadi kewajiban semua umat muslim.
            Tidak menutup kemungkinan di era globalisasi ini, banyak kemunkaran yang nampak jelas di lingkungan kita, baik di desa, maupun di kota-kota besar, seperti halnya minuman keras yang sangat digemari oleh kawula muda, di sana sini sering terjadi pengedaran ekstasi, wanita Islam berpakaian seperti telanjang, pergaulan bebas, dan masih banyak lagi kemunkaran-kemunkaran lain.
            Kita semua wajib merubah semua kemunkaran-kemunkaran yang terjadi. Pertama, haruslah dirubah dengan tangan. Bagi orang yang mempunyai kekuasaan haruslah mengubah dengan dikenakan sanksi akibat kemunkaran tersebut, karena melanggar norma agama dan norma masyarakat. Kalau tidak mampu mengubah dengan tangan, maka ubahlah dengan lisan, yaitu memberi nasihat-nasihat. Kalau tidak mampu merubah dengan lisan, maka ubahlah dengan hati, yaitu dengan tidak menyukai perbuatan munkar tersebut.
            Mengenai pentingnya amar ma’ruf nahi munkar, maka Nabi Muhammad saw. menjelaskan dalam sabdanya yang berbunyi:

“Barangsiapa yang melihat kemunkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, apabila tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, yakni diam saja itulah iman yang paling lemah.” (HR. Muslim).

            Hendaklah ada di kalangan umat Islam yang senantiasa mengajak kepada kebajikan dan mencegah kemunkaran. Nabi Muhammad saw. bersabda:


“Perintahlah olehmu akan kebaikan meskipun kamu belum mengerjakan kebaikan itu, dan laranglah olehmu daripada munkar meskipun kamu belum meninggalkan seluruhnya.” (HR. Thabrani).

Sabtu, 27 Juni 2015

Mengucapkan Salam

Mengucapkan Salam

            Semua orang tentunya mendambakan di akhirat kelak bisa masuk surga karena surga merupakan kediaman yang penuh dengan berbagai kenikmatan yang abadi. Dan untuk mencapai surga tidaklah hanya ditempuh dengan seenaknya saja dalam hidup ini. Padahal hamba Allah swt. yang bisa masuk surga adalah hamba yang beriman dengan sesungguhnya.
            Untuk mencapai iman atau hamba itu disebut beriman maka haruslah mencintai sesama saudara. Langkah yang perlu diterapkan dalam hidup agar benar-benar terjalin rasa cinta terhadap saudara ialah menyampaikan ucapan salam di antara kita. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Kamu tidak akan masuk surga, sehingga kamu telah beriman dan kamu tidak dianggap beriman, kecuali kamu saling mencintai. Maukah kamu saya tunjukkan tentang sesuatu, yang apabila kamu kerjakan pasti kamu akan saling mencintai? Sampaikan salam di antara kamu.” (HR. Muslim).

            Ucapan salam merupakan perbuatan terpuji yang patut disampaikan kepada siapa saja, baik yang dikenal, maupun yang tidak dikenal. Ucapan salam merupaka perbuatan yang paling baik dalam Islam. Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw. Perbuatan apakah yang paling baik dalam Islam, Rasulullah menjawab: Menberikan makan kepada fakir miskin, mengucapkan salam kepada siapa saja, baik yang engkau kenal maupun yang engkau tidak mengenal.” (HR. Bukhari dan Muslim).

            Juga sabda Rasulullah saw.:

“Wahai sekalian manusia, sampaikan ucapan salam (kepada siapa saja orang Islam), dan hendaklah engkau suka memberikan makan, dan hendaknya suka menghubungkan kekeluargaan, dan shalatlah di waktu malam di kala orang sedang nyenyak tidur, niscaya engkau akan masuk Surga dengan selamat.” (HR. Muslim).

            Tata cara mengucapkan salam terhadap sesama muslim, baik yang dikenal, atau yang tidak dikenal, dalam syariat Islam adalah sebagai berikut:

·      Hendaklah orang yang naik kendaraan memberika salam kepada orang yang berjalan kaki.
·        Hendaklah orang yang berjalan kaki memberikan salam kepada orang yang duduk.
·     Hendaklah rombongan orang sedikit memberikan salam kepada rombongan orang yang banyak.

·        Dan orang yang muda usianya memberikan salam kepada orang yang lebih tua.

Jumat, 26 Juni 2015

Amalan-Amalan Kebajikan yang Bermanfaat

Amalan-Amalan yang Dapat Memanjangkan Umur, Menambah Kebajikan, dan Meninggikan Derajat

1.          Carilah Pahala Dari Allah Dalam Setiap Amalan Yang Anda Lakukan

            Cari pahala dalam tidur, makan, minum, dan pekerjaan Anda, maka Anda akan diberi pahala, insya Allah. Amal baik itu banyak sekali, diantaranya menyebarkan dan menjawab salam, mendo’akan orang yang bersin dengan mengucapkan yarhamukallah(semoga Allah swt. mengasihi engkau), rendah hati, memaafkan orang yang pernah menzhaliminya, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya. Semua perkara ini bila dikerjakan seorang muslim karena ketaantan kepada Allah dan niat baik mengharapkan wajah Allah semata, tidak dilakukan sekedar kebiasaan atau kamuflase, maka ia akan mendapat pahala.

2.          Sambunglah Silaturahim Dengan Kerabatmu

            Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Silaturrahim akan menambah umur.” (Shahiihul Jaami’).

            Dan Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung kerabatnya.” (HR. Al-Bukhari).

            Hati-hatilah dari memutuskan kerabat, karena ini adalah sebab laknat Allah dan siksaNya. Allah swt, berfirman:
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 22-23).

            Nabi bersabda:
“Hubungilah kaum kerabat kalian walaupun dengan salam.” (Shahiihul Jaami’ dari Ibnu ‘Abbas r.a.).

3.          Perbaikilah Akhlakmu

          Dari Abud Darda’ bahwa Nabi saw. bersabda:
“Tidak ada suatu pun yang lebih berat dalam timbangan hamba yang beriman pada hari Kiamat dibandingkan akhlak yang mulia, dan sesungguhnya Allah membenci orang yang keji (ucapannya) lagi buruk (perangainya).” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani).

            Nabi saw. bersabda:
“Orang yang paling aku cintai di antara kalian, dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari Kiamat, ialah orang yang paling luhur akhlaknya di antara kalian.” (HR. At-Tirmidzi).

4.          Berbuat Baiklah Kepada Tetangga Anda

            Dari ‘Aisyah r.a., ia mengatakan, Rasulullah saw. bersabda:
“Silaturahim, akhlak yang baik dan bertetangga dengan baik dapat memakmurkan negeri (menambah rezeki) dan menambah umur.” (Shahiihul Jaami’).

            Sabdanya:
“Sebaik-baik Sahabat di sisi Allah ialah yang baik kepada Sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah yang terbaik kepada tetangganya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).

            Sabdanya:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya.” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad).

5.          Peliharalah Shalat Berjama’ah Di Masjid

          Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Shalat berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian dengan selisih dua puluh tujuh derajat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

6.          Bersucilah Di Rumah Anda dan Pergilah Untuk Melaksanakan Shalat

          Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat fardhu, maka pahalanya sebagaimana pahala orang yang berhaji lagi berihram.” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh al-Albani).

7.          Peliharalah Shalat Di Shaf Pertama

            Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat atas (orang-orang yang berada di) shaff pertama.” (HR. Ahmad, dengan sanad yang jayyid).

8.     Perbanyaklah Shalat Di Al-Haramain Asy-Syarifain (Dua Tanah Haram Yang Mulia, Yakni Makkah dan Madinah)

          Satu shalat yang dikerjakan di Masjidil Haram lebih utama daripada shalat di masjid lainnya dengan seratus ribu shalat, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah.

9.          Kerjakan Shalat-Shalat Sunnah di Rumah Anda

            Rasulullah saw. bersabda
:
“Shalat sunnah yang dilakukan seorang laki-laki di tempat yang tidak terlihat oleh orang lain setara dengan shalat dua puluh lima kali yang dikerjakannya di depan mata orang lain.” (Shahiihul Jaami’ dari Shuhaib).

            Dan Beliau bersabda:

“Sebaik-baik shalat yang dilaksankan laki-laki ialah di rumahnya, kecuali shalat fardhu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

10.     Peliharalah Shalat Isya dan Shubuh Dengan Berjama’ah

            Dari ‘Utsman bin Affan r.a., ia berkata, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa melaksanakan shalat ‘Isya’ secara berjama’ah, maka ia seperti melaksanakan shalat separuh malam, dan barangsiapa melaksanakan shalat Shubuh secara berjama’ah, maka ia laksana melaksanakan shalat sepanjang malam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

11.     Peliharah Shalat Dhuha

            Keutamaan shalat Dhuha, Nabi saw. bersabda:

“Setiap persendian salah seorang di antara kalian ada shadaqahnya. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmidadalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbiradalah shadaqah, amar ma’ruf adalah shadaqah, nahi mungkar adalah shadaqah, dan sudah mencukupi hali itu dua raka’at Dhuha yang dilaksanakannya.” (HR. Muslim dari Abu Dzarr r.a.).

12.     Hadirilah Pelajaran-Pelajaran Di Masjid

          Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Barangsiapa pergi ke masjid yang tujuannya hanyalah belajar kebaikan atau mengajarkannya (atau mengamalkannya), maka ia mendapatkan seperti pahala orang yang berhaji yang sempurna hajinya.” (HR. Ath-Thabrani dan dishahihkan oleh al-Albani).

13.     Berhias Dengan Adab-Adab Pada Hari Jum’at

            Dari Aus bin Abi Aus bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, kemudian bersegera berangkat, berjalan kaki tanpa berkendara, dekat dengan imam, lalu menyimak (khutbah) dan tidak berkata yang sia-sia, maka ia mendapatkan pada tiap-tiap langkah amalan setahun, yaitu pahala puasa dan qiyamnya.” (Diriwayatkan oleh Ahlus Sunan (para penulis kitab Sunan), dan dishahihkan at-Tirmidzi).

14.     Berkeinginanlah Untuk Memperbanyak Haji dan ‘Umrah

            Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali Surga.” (Shahiih Sunan at-Tirmidzi, dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a.).

15.     Berumrahlah Pada Bulan Ramadhan

          Rasulullah bersabda:

“Umrah di bulan Ramadhan sama dengan berhaji bersamaku.” (HR. Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas r.a.).

16.     Bantulah Kaum Fakir Muslimin Untuk Menunaikan Kewajiban Haji

          Allah akan memcatat untukmu seperti pahala haji mereka yang Anda bantu.

17.     Shalatlah Di Masjid Quba’

            Dari Sahl bin Hunaif r.a. bahwa Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi masjid Quba’, lalu ia melaksanakan shalat di dalmnya, maka ia mendapatkan seperti pahala ‘umrah.” (Sunan Ibnu Majah, dan dishahihkan al-Albani).

18.     Jadilah Mu-Adzdzin Atau Jawablah Mu-Adzdzin

            Anda dapat menambah kebajikan dengan menjadi mu-adzdzin, atau Anda mengucapkan sebagaimana yang diucapkan mu-adzdzin. Nabi bersabda:

“Mu-adzdzin diampuni dosanya sepanjang suaranya. Ia dibenarkan oleh setiap yang mendengarnya, baik yang basah maupun yang kering, dan dia mendapat seperti pahala orang yang shalat bersamanya.” (Shahiih Sunan an-Nasa-i, dari al-Bara’ bin ‘Azib r.a.).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwa seseorang mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para mu-adzdzin melebihi kami.” Maka beliau bersabda, “Katakanlah sebagaimana yang mereka ucapkan. Jika selesai (adzan) maka memohonlah, niscaya permohonanmu dikabulkan.” (Shahiihut Targhiib wat Tarhiib).

19.     Perbanyaklah Melakukan Puasa-Puasa Sunnah

          Di antaranya:

a)      Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, berdasarkan sabda Nabi:

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti melaksanakan puasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim dari Abu Ayyub al-Anshari r.a.).

b)  Berpuasa tiga hari pada ayyaamul biidh (hari-hari putih, maksudnya hari di mana malamnya bulan purnama) dari setiap bulan Hijriyah, yaitu tanggal 13, 14, dan 15, berdasarkan sabdanya:

“Barangsiapa melaksanakan puasa tiga hari pada setiap bulan, maka itu seperti puasa sepanjang tahun.” (Shahiih Sunan Ibni Majah, dari Abu Dzarr r.a.).

c)     Puasa ‘Arafah, yakni untuk orang yang tidak melaksanakan haji. Puasa ini menghapuskan dosa-dosa selama dua tahun. Puasa ‘Asyura’ (tanggal sepuluh Muharram) akan menghapuskan dosa-dosa setahun sebagaimana riwayat shahih dari Nabi saw.

20.     Berperansertalah Dalam Memberi Makanan Untuk Berbuka Puasa Kepada Orang yang Berpuasa

            Memberikan buka puasa kepada orang yang berpuasa akan menambah kebajikan. Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Barangsiapa memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan seperti pahalanya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.” (Sunan at-Tirmidzi, dari Zaid bin Khalid al-Juhani).

21.     Jangan Tinggalkan Qiyam (Shalat Malam) Pada Lailatul Qadar

            Melaksanakan qiyam pada Lailatul Qadar akan menambah kebaikan juga, dan lebih baik di sisi Allah daripada ibadah 1000 bulan, sebagaimana firman Allah:
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3).

22.     Berjihadlah Di Jalan Allah

          Jihad di jalan Allah dengan aneka ragamnya akan menambah kebajikan, memperpanjang umur. Nabi bersabda:

“Kedudukan seseorang dalam barisan (yang bertempur) di jalan Allah lebih utama daripada ibadah yang dilakukan seseorang selama 60 tahun.” (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak, dan ia mengatakan “Shahih sesuai syarat al-Bukhari,” dari Imam bin Hushain).

23.     Ribath Dan Berjagalah Di Jalan Allah

            Ribathdan berjaga sehari di jalan Allah untuk menjaga perbatasan wilayah Islam, pahalanya laksana puasa sebulan berikutnya qiyamnya, berdasarkan sabda Nabi:

“Siapa yang berjaga sehari semalam di jalan Allah, maka ia mendapat seperti pahala puasa dan qiyam selama sebulan.” (Sunan an-Nasa-i, dari Salman al-Khair. Dishahihkan al-Albani).

24.     Perbanyaklah Membaca Al-Qur’an

            Di antara yang dapat memperpanjang usia dan menambah kebajikan ialah membaca al-Qur’am dan mengulang-ulang bacaan sebagian surat, seperti surat al-Ikhlas yang setara dengan sepertiga al-Qur’an, dan al-Kaafirun yang setara dengan seperempat al-Qur’an.
            Dari Abud Darda’ bahwa Nabi bersabda, “Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu membaca sepertiga al-Qur’an dalam semalam?” Mereka bertanya, “Bagaimana membaca sepertiga al-Qur’an.” Beliau bersabda, “Qul huwallaahu ahad (surat al-Ikhlas) setara dengan sepertiga al-Qur’an.” (HR. Muslim).
            Dan Nabi bersabda:

Qul yaa ayyuhal kaafirun setara dengan seperempat al-Qur’an.” (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak dan dishahihkannya, dari Ibnu ‘Umar r.a.).

25.     Perbanyaklah Berdzikir Kepada Allah

          Dzikir mudha’af(yang bacaannya diulang-ulang) adalah lautan kebajikan yang sangat luas, di antaranya: tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (ucapan laa haula walaa quwwata illaa billaah) dan hasbalah (ucapan hasbiyallaah).

26.     Perbanyaklah BerIstighfar

            Istighfaryang dilakukan berulang-ulang akan menambah kebaikan.
        Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, ia mengatakan: Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa memohonkan ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat, maka Allah mencatat untuknya dengan setiap mukminah satu kebajikan.

27.     Berperansertalah Dalam Menyelesaikan Hajat Orang Lain

            Menyelesaikan hajat orang lain dapat memperpanjang umur dan menambah kebajikan.
            Dari ‘Abdullah bin ‘Amr r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh aku berjalan bersama saudaraku sesama muslim untuk suatu hajat, itu lebih aku sukai daripada i’tikaf di masjid ini selama sebulan.” Yakni masjid Madinah. (HR. Ath-Thabrani dan dihasankan al-Albani dalam Shahiihul Jaami’).

28.     Mati Dalam Ribath (Berjagalah-Jaga Di Jalan Allah)

            Nabi Muhammad saw. bersabda:

Setiap orang yang mati ditutup amalnya kecuali orang yang mati dalam keadaan berjaga-jaga di jalan Allah. Karena amalnya akan terus dikembangkan untuknya hingga hari Kiamat, dan dia diberi rasa aman dari fitnah kubur.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan shahih).

29.     Hendaklah Anda Memiliki Shadaqah Jariyah

            Seperti wakaf yang mewakafkannya karena Allah dan amal-amal kebajikan lainnya. Nabi Muhammad saw. bersabda:

Di antara amalan dan kebajikan yang terus sampai kepada orang mukmin setelah kematiannya, ialah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf yang diwariskannya , masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk ibnu sabil, sungai yang dialirkannya, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya semasa sehatnya dan semasa hidupnya, maka itu sampai kepadanya setelah kematiannya.” (HR. Ibnu Mjah dan dihasankan al-Albani, dari Abu Hurairah r.a.).

30.     Hendaklah Anda Berkeinginan Untuk Memiliki Anak Yang Shalih

            Mendidik anak agar menjadi anak yang shalih pahalanya akan terus mengalir kepada Anda, baik semasa hidup maupun sesudah mati.

31. Jadilah Da’i (Yang Menyeru Manusia) Kepada Allah Dan Ajarkanlah  Kepada Mereka (Syari’atNya)

            Mengajarkan kebajikan kepada manusia termasuk amal yang pahalanya terus mengalir kepada Anda, baik semasa hidup maupun sesudah mati. Nabi Muhammad saw. bersabda:

Jika anak Adam (manusia) mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.).


Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.).

Kamis, 25 Juni 2015

Sukses Selamat

Sukses Selamat

            Modal utama untuk meraih kesuksesan adalah kecerdasan, kearifan, dan kejernihan hati. Kunci agar mendapat kesuksesan dan keselamatan ada pada kerja keras, kecerdasan, kearifan, dan kejernihan hati.
            Kematangan pribadi adalah kemampuan seseorang untuk memahami, bersikap, dan bertindak secara tepat dan benar. Kematangan pribadi akan tampak dari kecerdasan, kearifan, dan kejernihan hatinya dalam bersikap dan bertindak, ataupun dalam memahami dan menyikapi sesuatu. Kecerdasan, kearifan, dan kejernihan hati adalah faktor penopang terbentuknya kematangan pribadi.
            Untuk meraih kecerdasan dan akal pikiran yang tajam perlu adanya usaha-usaha pengasahan dan pengembangan yang sistematis, kontinu, dan optimal, senantiasa menuntut ilmu pengetahuan dan belajar. Salah satu upaya pengasahan diri untuk meraih kecerdasan dan ketajaman akal pikiran adalah dengan banyak bertafakur, memikirkan, merenungkan, memahami, dan menghayati ayat-ayat Allah, baik yang bersifat lafziah (Al-Qur’an) maupun yang bersifat kauniyah (fenomena alam dan kejadian di sekitar kita).
            Dengan kecerdasan, seseorang akan lebih cermat dan cepat dalam memahami, memutuskan, dan melakukan sesuatu. Lebih cepat dan gesit untuk mencari solusi dari segala permasalahan. Lebih bisa mencari banyak alternatif pemikiran untuk menyelesaikan permasalahan, dan meraih keberhasilan.
            Kearifan diri adalah cerminan dari matangnya kepribadian. Kearifan adalah gambaran nyata dari kuatnya kepribadian. Kearifan akan terwujud dalam diri seseorang dengan luasnya pengetahuan dan tingginya kesabaran. Ilmu pengetahuan yang dalam, wawasan yang luas, dan pola pikir yang jernih, ditambah dengan sikap hidup yang sabar, tidak mudah putus asa dan tawakal, akan menjadikan seseorang mampu meraih kearifan dan kematangan diri.
            Dengan kearifan, seseorang akan lebih bersikap hati-hati, cermat, dan berpandangan jauh ke depan dalam memahami dan menyikapi sesuatu yang terjadi. Tidak mudah bersikap gegabah, emosional, dan ceroboh dalam menyikapi sesuatu. Ia akan berpikir matang sebelum memutuskan untuk bertindak ataupun berbuat.
            Kejernihan hati adalah sarana utama untuk meraih kecerdasan dan kearifan hidup yang akan mebentuk kepribadian yang matang. Kejernihan hati akan membuat seseorang mampu berpikir secara terang dan jelas sebelum berucap dan bertindak. Salah satu upaya meraih kejernihan hati adalah dengan penyucian diri dari segala perbuatan dosa dan maksiat. Jika ingin meraih kejernihan hati, sucikanlah diri dari perbuatan dosa dan maksiat, basuhlah hati dengan air mata taubat.

            Kejernihan dan kesucian hati tidak akan bisa bersatu dengan dosa dan maksiat, karena sesungguhnya kejernihan dan kesucian hati adalah bersihnya hati dari titik-titik noda dan maksiat. Mohon ampun kepada Allah atas segala dosa dan kesalahan serta berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa menghindarkan diri dari perbuatan dosa dan kemaksiatan.