Menyantap Makanan dan Minuman
Menyantap hidangan, walaupun pada umumnya hukumnya mubah, akan tetapi pada suatu saat bisa menjadi sesuatu yang mendesak dan wajib untuk dilaksanakan oleh manusia. Seseorang yang dengan sengaja meninggalkan makan hingga mati, dia mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah karena ia telah membunuh dirinya sendiri. Maka, dalam keadaan seperti itu makan merupakan sebuah kewajiban dan menjadi ibadah sebagai aplikasi dari ketaatan dan kedekatan kita kepada Allah swt., di mana Allah swt. dengan kekuasaan-Nya menjadikan tubuh ini mengandung ruh dan nafsu yang diciptakan oleh Allah dengan tujuan untuk digunakan beribadah kepada-Nya.
Kita harus mengambil manfaat dari gizi dan kandungan obat dalam makanan untuk kesehatan tubuh agar dapat menunaikan ketaatan kepada Allah. Sangat keliru orang yang menjadikan kelezatan makanan dan minuman sebagai satu-satunya tujuan, serta lalai mengambil hikmah dari tujuan makan dan minum itu sendiri.
Berapa banyak nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita, seperti menjadikan tubuh kita kuat dan anggota tubuh kita bekerja siang dan malam, dalam keadaan tidur maupun terjaga, dalam keadaan diam maupun bergerak. Juga, kita selalu menemukan dalam kerongkongan kita sesuatu yang lezat lalu kita makan dan kita minum, kemudian manfaatnya akan diserap oleh tubuh, dan dari makanan itulah dapat menyembuhkan penyakit. Di antara beberapa kelenjar menyaring puluhan bahkan ratusan zat dengan ukuran yang sudah ditentukan, juga perangkat untuk pencernaan, pencampuran, penyaluran, penyimpanan, dan pemurnian. Maka, hati, ginjal, limpa, paru-paru, urat saraf, otak, otot-otot, dan lain sebagainya, semuanya bekerja aktif dan kita bisa menikmati sesuatu yang lezat. Kita bisa tidur dan beristirahat, berkeliling, berdiri, duduk, dan aktivitas lainnya. Di dalam tubuh kita memang ada kehidupan yang begitu rapi dan teratur. Maha Suci Dzat yang telah berfirman, yang artinya:
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21).
Di antara nikmat Allah kepada kita adalah dijadikannya tubuh ini memiliki rasa lapar, haus, dan rasa sakit sehingga menjadi peringatan bagi kita untuk segera makan jika rasa lapar datang, segera minum ketika haus, dan segera minum obat ketika rasa sakit mendera. Nikmat Allah kepada kita juga adalah dikaruniakannya kelezatan makanan ketika makan dan minum, serta nyamannya beristirahat ketika rasa sakit telah hilang sehingga dengan bantuan tubuh ini kita mampu menjaga tugas kita untuk selalu taat kepada Allah Rabb semesta alam.
Kita dituntut oleh Allah untuk memikirkan dan memperhatikan apa yang kita makan. Allah swt. berfirman, yang artinya:
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 24-32).
Berbagai macam makanan yang ada di hadapan Anda, dengan warna dan rasa yang berbeda-beda adalah untuk kemaslahatan makhluk hidup di muka bumi ini dan cocok untuk setiap waktu. Setiap orang telah ditetapkan bagian-bagiannya sesuai untuk segala kondisi, ketika sehat, kuat, sakit, atau lemah. Makanan tersebut juga untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang memang membutuhkan, mencukupi orang yang meminta, menutupi orang yang kekurangan, mengenyangkan orang yang lapar, menyenangkan setiap orang yang tamak, mencukupi setiap orang yang merasa cukup, dan mengingatkan setiap orang yang lalai.
Jenis dan warna makanan ada yang hijau, kering, halus, kasar, manis, pahit, cair, beku, panas, dan dingin, semuanya baik dan enak rasanya, dan baik juga jika makanan tersebut dicampur satu sama lain. Ada bahan makanan yang bisa disimpan dalam waktu yang lama, dan ada jenis makanan yang langsung dimakan dalam keadaan segar, karena jika ditunda memakannya, akan membusuk. Ada jenis makanan yang bermanfaat untuk dijadikan makanan pokok, dan ada yang bisa dimanfaatkan untuk obat. Firman Allah, yang artinya:
“Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf: 69).
Yakni mata yang bisa melihat indahnya warna-warni makanan, hidung yang bisa menghirup bau masakan yang lezat, dan lidah yang bisa merasakan lezatnya sebuah masakan. Dia berfirman, yang artinya:
“Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 13).
Untuk menyantap makanan ada beberapa adab syar’i yang harus dilaksanakan. Nabi Muhammad saw. telah menjelaskan dalam sunnah qauliyah (perkataan) dan fi’liyah(perbuatan) beliau, seperti makan sambil duduk, membaca bismillah (tasmiyyah), makan dengan tangan kanan, berkumpul ketika makan, mengambil makanan dari sisi piring, dan tidak menyisakan sedikit pun makanan dipiring hingga tidak sia-sia dan terbuang. Juga, jangan mengambil makanan, kecuali sesuai dengan ukuran yang kita mampu, memungut makanan yang jatuh, menyingkirkan kotoran yang berada pada makanan, tidak meninggalkan makanan untuk setan, mencuci kedua tangan sebelum dan sesudah makan, dan etika-etika makan lainnya.
Dari ‘Umar bin Abi Salamah ra., ia berkata, “Ketika kecil aku diasuh oleh Rasulullah saw., dan tanganku tidak teratur dalam mengambil makanan di dalam piring yang besar. Lalu Rasulullah saw. bersabda, yang artinya:
‘Wahai anakku, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, makanlah apa yang ada di depanmu.’ Aku pun selalu melakukannya pada makananku sesudah itu.” (HR. Imam Bukhari dalam Shahihnya).
Dari Hudzaifah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda, yang artinya:
“Sesungguhnya setan ikut makan dengan orang yang tidak membaca bismillah sebelumnya.” (HR. Imam Muslim dalam Shahihnya).
Dari ‘Aisyah ra. bahwasanya Nabi saw bersabda, yang artinya:
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka ucapkanlah, ‘Bismillah (dengan menyebut nama Allah)’, dan jika ia lupa, membacanya di awal makan, maka ucapkanlah, ‘Bismillah fi awwalihi wa akhirihi (dengan menyebut nama Allah di awal dan di akhirnya)’.” (HR. Imam Tirmidzi, hadist hasan shahih).
Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Nabi saw. bersabda, yang artinya:
“Janganlah kalian minum sekaligus seperti minumnya unta, tapi minumlah dua kali dan tiga kali tegukan. Bacalah bismillah apabila kalian akan minum, dan bacalah hamdalah apabila kalian telah selesai minum.” (HR. Imam Tirmidzi, hadist gharib dan didha’ifkan oleh Albani).
Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda, yang artinya:
“Barangsiapa yang tidur dan ditangannya masih ada bau lemak daging, dan ia pun tertimpa sesuatu, maka janganlah ia mencela kecuali pada dirinya sendiri.” (HR. Imam Tirmidzi, hadits hasan gharib dan dishahihkan oleh Albani).
Dari ‘Aisyah ra., ia berkata, “Rasulullah saw. apabila akan tidur dan beliau dalam keadaan junub maka beliau berwudhu, dan apabila beliau akan makan atau minum beliau mencuci kedua tangannya kemudian beliau makan atau minum.” (HR. Imam Nasa’i, dishahihkan oleh Al-Albani).
Dari Abu Juhaifah ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda, yang artinya:
“Aku tidak makan sambil bersandar.” (HR. Imam Bukhari).
Dari Anas ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda, yang artinya:
“Apabila sekerat daging salah seorang di antara kalian jatuh, maka singkirkanlah kotorannya lalu makanlah, dan jangan meninggalkan untuk setan. Dan kamu juga diperintahkan untuk membersihkan piring. Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kalian tidak tahu makanan yang mana yang mengandung berkah’.” (HR. Imam Muslim).
Dari Abu Umamah, bahwasanya Nabi saw. bersabda, “Apabila Rasulullah selesai makan, beliau membaca:
“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan berkah, yang tak akan pernah habis, tak akan ditinggalkan dan senatiasa dibutuhkan, wahai Rabb kami.” (HR. Imam Bukhari).
Dari Anas ra., bahwa Nabi saw. bersabda, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba yang makan sebuah makanan, lalu mengucapkan hamdalah, atau minum segelas minuman, lalu mengucapkan hamdalah.” (HR. Imam Muslim).
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Nabi saw. tidak pernah mencela makanan apa pun. Jika berselera, beliau memakannya; dan jika tidak, beliau meninggalkannya.” (HR. Imam Bukhari).
Hendaknya kita menjaga adab-adab tersebut dan mengajarkannya kepada keluarga, saudara, maupun teman kita sehingga mereka terbiasa dan menjadi bagian dari sifat mereka. Dan tidak lupa untuk saling mengingatkan satu sama lain agar bisa menerapkan adab-adab makanan makanan dan minuman yang sesuai dengan syar’i.
Mengatur waktu makan yang teratur merupakan bagian terpenting dalam menjaga kesehatan dan bisa membuat kita terbiasa menghormati waktu, serta selalu menunaikan kewajiban tepat pada waktunya. Makanlah tiga kali sehari dan aturlah waktu yang paling sesuai agar kita bisa makan dengan nyaman.
Menyantap hidangan adalah nafsu, kelezatam dan kesenangan, terlebih bagi orang yang sangat lapar. Maka, barang siapa ingin mendidik kesebaran dan kesungguhan diri, hendaklah ia membiasakan diri untuk bersabar ketika lapar dan jangan memenuhi seluruh perutnya dengan makanan.
Nabi Muhammad saw. telah mencontohkan dalam sunnahnya, dari Miqdad bin Ma’dikarib, bahwasanya Nabi saw. bersabda, yang artinya:
“Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga dari perutnya hendaknya diisi untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Imam Tirmidzi, hadits hasan shahih).
Kita harus bisa bersabar ketika lapar, sabar saat melihat berbagai jenis makanan, minuman, dan buah-buahan. Juga, bersabar akan kemungkinan susahnya hidup, atau terhadap jenis makanan yang selalu sama.
Makan bersama-sama terutama bersama keluarga merupakan kebiasaan orang shaleh, serta menunjukkan akhlak dan agama yang baik. Jadi, usahakanlah agar bisa makan bersama-sama walaupun hanya seminggu satu kali jika memang tidak bisa tiap hari.
Diriwayatkan bahwa para sahabat Nabi saw. berkata, “Wahai Rasulullah, kamu makan tapi kami tidak kenyang.” Rasul bersabda, “Apakah kalian makan dengan terpisah?” Mereka menjawab, “Ya.” Lalu Rasul bersabda, yang artinya:
“Berkumpullah kalian ketika makan, dan sebutlah nama Allah, niscaya Allah akan memberikan keberkahan kepada kalian di dalam makanan tersebut.” (HR. Imam Abu Dawud, dianggap hasan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar, dishahihkan oleh As-Suyuthi).
Berkumpul saat makan juga dapat menimbulkan kegembiraan serta rasa kasih sayang. Juga merupakan kesempatan yang baik untuk berbincang-bincang dan melepas kerinduan.
Menyantap hidangan memiliki seni selera karena waktu menyantap makanan mesti mengundang selera. Ketika makan, kita tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat orang lain menjadi risih dan menganggap perbuatan itu tidak baik sehingga menghilangkan selera makannya.
Di antara perilaku-perilaku yang tidak baik ketika makan adalah bersendawa dengan suara yang keras ketika makan, mengambil daging dengan ukuran yang terlalu besar, minum dengan mengeluarkan suara yang terdengar oleh orang lain, dan mengunyah makanan dengan mengeluarkan suara. Juga, membuka mulut lalu memasukkan jari ke dalam mulut dan mengambil makanan yang terselip di dalamnya, mengembalikkan sendok yang telah dipakai dan menyimpannya di piring yang digunakan oleh umum. Atau juga, meludah berdahak dengan cara yang tidak pantas, menguasai seluruh makanan yang ada atau salah satu menu makanan yang paling enak dan tidak memberikan kesempatan kepada yang lain untuk mencicipinya, dan perilaku-perilaku lainnya yang mengganggu orang lain, termasuk merusak kesenangan orang lain yang sedang makan.
Jadi, marilah kita sebagai orang-orang yang beriman untuk menjaga adab makan dan minum kita. Kita juga harus menghormati orang lain yang sedang menyantap hidangan dengan tidak mengganggunya sampai menghilangkan nafsu makannya. Mari kita sama-sama mengamalkan sunah Rasulullah saw. dalam menyantap hidangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar