Minggu, 29 Maret 2015

Tauhid


Tauhid
            Tauhid adalah mengesakan Allah swt. dengan beribadah hanya kepadaNya semata. Allah swt. berfirman,


            Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya       mereka menyembahKu.” (Adz-Dzariyat: 56).
            Maksudnya, agar manusia dan jin beribadah hanya kepada Allah swt. semata dan mengkhususkan berdoa hanya kepadaNya.
A.     Macam-macam Tauhid
            Tauhid berdasarkan Kitab Suci Al-Qur’an ada tiga macam:
1.     Tauhid Rububiyah
            Yaitu pengakuan bahwa sesungguhnya Allah adalah Rabb dan Pencipta. Orang-orang kafir pun mengakui macam tauhid ini, tetapi pengakuan tersebut tidak menjadikan mereka tergolong sebagai orang islam. Allah berfirman,


            Dan sungguh, jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka,’ niscaya mereka menjawab, ‘Allah’.” (Az-Zukhruf: 87).

2.     Tauhid Uluhiyah
            Yaitu mengesakan Allah dengan melakukan berbagai macam ibadah yang diisyaratkan, seperti berdoa, memohon pertolongan, thawaf, menyembelih binatang kurban, dan berbagai ibadah lainnya. Macam tauhid inilah yang diingkari oleh orang-orang kafir.
            Dalam banyak suratnya, Kitab suci Al-Qur’an sering memberikan anjuran kepada tauhid uluhiyahini, di antaranya, agar setiap Muslim berdoa dan meminta hajat hanya kepada Allah semata. Di dalam surat Al-Fatihah misalnya, Allah berfirman,


            Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah          kami meminta pertolongan.” (Al-Fatihah: 5).
            Maksudnya, khusus kepadaMu (ya Allah) kami beribadah, hanya kepadaMu semata kami berdoa dan kami sama sekali tidak memohon pertolongan kepada selain Engkau.
            Tauhid uluhiyah ini mencakup masalaj berdoa semata-mata hanya kepada Allah, mengambil hukum dari al-Qur’an, dan tunduk kepada syariat Allah. Semua itu terangkum dalam Firman Allah,
 
            Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah)       selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.            (Thaha: 14).

3.     Tauhid Asma’ wa Shifat
            Yaitu beriman terhadap segala apa yang terkandung dalam al-Qur’an al-Karim dan hadits shahig tentang sifat-sifat Allah yang Dia ungkapkan tentang DiriNya atau diungkapkan oleh Rasulullah saw. tentang sifat-sifat Allah tersebut.
            Maksud beriman kepada sifat-sifat Allah sebagaimana adanya adalah dengan tanpa hal-hal berikut ini:
1)      Tahrif adalah memalingkan zhahirayat dan hadits-hadits shahih pada makna lain yang batil dan salah. Seperti istawa(bersamayam di tempat yang tinggi) diartikan istaula (menguasai).
2)      Ta’thil ialah mengingkari sifat-sifat Allah dan menafikannya. Seperti Allah berada di atas langit, sebagian kelompok yang sesat mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat.
3)      Takyif ialah memvisualisasikan sifat-sifat Allah. Misalnya dengan menggambarkan bahwa bersemayamnya Allah di atas ‘Arasy itu begini dan begitu. Padahal bersemanyamnya Allah di atas ‘Arasy itu tidak serupa dengan bersemayamnya para makhluk, dan tak seorang pun yang mengetahui gambarannya kecuali Allah swt. semata.
4)      Tamtsil ialah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya. Karena itu tidak boleh mengatakan, “Allah turun ke langit, sebagaimana kita turun”. Hadits tentang nuzulAllah (turunnya Allah) itu ada dalam riwayat Imam Muslim.
5)      Tafwidh (penyerahan): menurut ulama salaf, tafwidh hanya pada al-Kaif (hal, keadaan) tidak pada maknanya. Al-Istiwa’ misalnya berarti al-‘Uluw(ketinggian), yang tak seorang pun mengetahui bagaimana dan seberapa ketinggian tersebut kecuali hanya Allah swt.

B.     Urgensi Tauhid
           
            Sesungguhnya Allah menciptakan segenap alam agar mereka menyembah kepadaNya. Allah mengutus para rasul untuk menyeru semua manusia agar mengesakanNya. Al-Qur’an al-Karim dalam banyak suratnya menekankan tentang arti pentingnya akidah tauhid, menjelaskan bahaya syirik atas pribadi dan jama’ah, dan bahwa syirik merupakan penyebab kehancuran di dunia dan keabadian di dalm Neraka.
            Semua rasul memulai dakwah (ajakan)nya kepada tauhid. Hal ini merupkan perintah Allah yang harus mereka sampaikan kepada umat manusia. Rasulullah saw. mendidik para sahabatnya agar memulai dakwah kepada umat manusia dengan tauhid. Allah swt. berfirman,

            Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada tuhan (yang haq) kecuali Aku, maka sembahlah Aku’.” (Al-Anbiya’: 25).
Tauhid inilah hakikat ajaran Islam yang di atasnya Islam ditegakkan. Dan Allah tidak menerima seorang pun yang mempersekutukanNya.
Sesungguhnya tauhid tercermin dalam kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah swt. dan Muhammad adalah utusan Allah. Maknanya, tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan tidak ada ibadah yang benar kecuali apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw.. Kalimat syahadatinilah yang bisa memasukkan orang kafir ke dalam agama Islam, karena ia adalah kunci Surga, ia akan mengantarkan orang yang mengikrarkannya ke Surga selama tidak merusaknya dengan perbuatannya, misalnya syirik atau kalimat kufur.
Tauhid adalah tugas setiap Muslim dalam hidupnya. Seorang Muslim memulai hidupnya dengan tauhid. Tugasnya di dalam hidup ini adalah berdakwah dan menegakkan tauhid, karena tauhid mempersatukan orang-orang beriman dan menghimpun mereka dalam satu wadah kalimat tauhid.

C.      Keutamaan Tauhid
1.     Allah swt. berfirman,

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82).
Ayat ini member kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengesakan Allah, yang tidak mencampuradukkan antara keimanan dengan syirik, serta menjauhi segala bentuk perbuatan syirik. Sungguh mereka akan mendapatkan keamanan yang sempurna dari siksaan Allah di akhirat kelak. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk di dunia.
2.     Rasulullah saw. bersabda,

Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ‘La Ilaha Illallah’ dan cabang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan.” (HR. Muslim).
3.      Tauhid adalah pengantar kebahagiaan dan pelebur dosa. Tauhid merupakan factor terpenting bagi kebahagiaan seorang hamba. Tauhid juga merupakan sarana yang paling agung untuk melebur dosa-dosa dan kemaksiatan.

D.     Manfaat Tauhid

            Jika tauhid yang murni terealisasi di dalam kehidupan individu maupun jama’ah, niscaya akan menghasilkan buah yang amat manis. Di antara buah yang didapat adalah:
1.      Memerdekakan manusia dari perbudakan dan tunduk kepada selain Allah, baik kepada benda-benda atau makhluk lainnyayang tidak kuasa untuk menciptakan, bahkan keberadaan mereka karena diciptakan. Mereka tidak bisa member manfaat atau bahaya kepada dirinya sendiri, dan tidak mampu mematikan, menghidupkan atau membangkitkan.
2.      Membentuk kepribadian yang kokoh
            Tauhid membantu dalam pembentukan kepribadian yang kokoh, yang pandangan dan arah hidupnya jelas. Ia tidak mempunyai kecuali Rabb Yang Esa tempat ia mengadu, baik di kala sendirian maupun di tengah keramaian. KepadaNya-lah ia memohon di waktu lapang dan sempit.
            Orang Mukmin menyembah Rabb Yang Esa. Ia mengetahui apa yang membuatNya ridha dan murka. Maka yang diridhaiNya ia kerjakan, sehingga hatinya tenteram. Adapun orang musyrik, ia menyembah tuhan-tuhan yang banyak. Tuhan ini menginginkannya ke kanan, sedang tuhan lainnya menginginkannya ke kiri. Ia terombang ambing di anta tuhan-tuhan itu, tidak memiliki prinsip dan ketetapan.
3.     Tauhid sumber keamanan dan kedamaian manusia
            Sebab tauhid memenuhihati para ahlinya dengan keamanan dan ketenangan. Tidak ada rasa takut kecuali kepada Allah. Tauhid menutup rapat celah-celah kekhawatiran terhadap rizki, jiwa dan keluarga, rasa takut terhadap manusia, jin, kematian dan lainnya menjadi sirna. Seorang Mukmin yang mengesakan Allah hanya takut kepada satu, yaitu Allah. Karena itu, ia mersa aman ketika manusia ketakutan, dan merasa tenang ketika mereka kalut. Hal itu diisyaratkan oleh al-Qur’an,

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82).
            Keamanan ini bersumber dari dalam jiwa. Dan keamanan yang dimaksud adalah keamanan dunia, adapun keamanan akhirat adalah lebih besar dan lebih abadi yang akan mereka rasakan (kelak). Yang mereka peroleh itu disebabkan mereka mengesakan Allah, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah dan tidak mencampuradukkan tauhid mereka dengan syirik, karena mereka mengetahui bahwa syirik adalah kezhaliman yang besar.
4.     Tauhid adalah sumber kekuatan jiwa
            Tauhid memberikan kekuatan jiwa yang luar biasa, karena jiwanya penuh rasa harap kepada Allah, percaya dan tawakal kepadaNya, ridha atas qadar (ketentuan)Nya, dan sabar atas musibahNya, serta sama sekali tak mengharap sesuatu kepada makhluk. Apabila musibah menimpa, ia segera memohon kepada Allah agar dibebaskan darinya. Ia tidak meminta kepada orang-orang mati. Firman Allah swt.,

Jika Allah menimpakan kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan hanya Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesutu.” (Al-An’am: 17).
5.     Tauhid adalah dasar persaudaraan dan persamaan
            Tauhid tidak membolehkan pengikutnya menjadikan sesame mereka sebagai tuhan. Sifat ketuhanan hanya milik Allah swt. semata dan semua manusia wajib beribadah kepadaNya. Segenap manusia adalah hamba Allah, dan yang paling Mulia di antara mereka adalah Muhammad saw.

E.      Musuh-musuh Tauhid

            Allah swt. berfirman,
 
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh. Yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.(Al-An’am: 112).
            Di antara hikmah dan kebijaksanaan Allah adalah menjadikan bagi para nabi, rasul, dan para da’i kepada tauhid musuh-musuh dari jenis setan-setan jin yang membisikkan kesesatan, kejahatan, dan kebatilan kepada setan-setan dari jenis manusia. Hal ini untuk menyesatkan dan menghalangi mereka dari tauhid yang merupakan dakwah utama dan pertama para nabi dan rasul kepada kaumnya.
            Sebab tauhid merupakan asas utamayang di atasnya dakwah Islam dibangun. Anehnya, sebagian orang berasumsi dakwah kepada tauhid hanya akan memecah belah umat, padahal justru sebaliknya, tauhid akan mempersatukan umat. Namanya saja (tauhid berarti mengesakan, mempersatukan) menunjukan persatuan.

F.      Sikap Ulama Terhadap Tauhid

            Ulama adalah pewaris para nabi dan rasul. Dan menurut keterangan al-Qur’an, yang pertama kali diseruka oleh para nabi dan rasul adalah tauhid, sebagaimana disebutkan Allah dalam FirmanNya,

Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut’ maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36).
            Karena itu wajib bagi setiap ulama untuk memulai dakwahnya sebagaimana para rasul memulai. Yakni pertama kali menyeru manusia kepada mengesakan Allah dalam segala bentuk peribadatan, terutama dalam berdoa, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw. “Doa adalah ibadah.” (HR. at-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan shahih”).
            Saat ini kebanyakan umat Islam terjerumus ke dalam perbuatan syirik dan berdoa (memohon) kepada selain Allah. Hal inilah penyebab kesengsaraan mereka dan umat-umat terdahulu karena mereka berdoa dan beribadah kepada selain Allah, seperti kepada para wali, orang-orang shalih dan sebagainya.

1 komentar: